Syntories

Dance With Me — Bab 1

Bab 1

Bau ikan asin menempel di udara pasar pagi itu, dan di bawahnya, samar, ada bau lain yang membuat langkah Sundari berhenti di antara dua lapak.

Laras menabraknya dari belakang. Bakul di tangan Laras miring, dan dua butir telur hampir jatuh. “Dari, jangan berhenti di tengah…”

Laras tidak menyelesaikannya. Ia melihat ke mana Sundari memandang.

Di ujung jalan pasar, di antara orang-orang yang menyingkir, empat ekor kuda berjalan pelan. Penunggangnya berbaju gelap, senapan di bahu. Yang di depan duduk tegak di atas kuda cokelat yang lebih besar dari yang lain, dan tangan kanannya di pangkuan, dan cincin di jari tengah tangan itu menangkap matahari.

Kakinya berhenti di tanah pasar.

Ia sudah mendengar suara itu dari balik pagar. Ia sudah mencium bau itu dari celah lumbung. Ia belum pernah melihatnya di sini, di Kartasura, dengan matanya sendiri, di bawah langit yang sama dengan langit di atas dapur Ndara Ayu dan anak-anak di bawah pohon nangka.

Laki-laki pucat itu tidak memandang ke kiri atau ke kanan. Ia memandang lurus ke depan, ke ujung pasar, seperti orang yang tahu jalan ini miliknya. Kuda-kudanya berjalan di tengah, dan orang-orang menyingkir ke lapak-lapak tanpa disuruh, menundukkan kepala, menarik anak-anak mereka ke balik bakul.

Bahu kanan Sundari mundur. Ia merasakan tiang lapak di punggungnya.

Laras menarik lengannya. Ke samping, ke balik gerobak penjual kelapa yang berhenti di tepi jalan. Gerobak itu tinggi dan penuh, dan di belakangnya ada ruang sempit di antara roda dan dinding lapak, cukup untuk dua perempuan berjongkok.

Mereka berjongkok. Laras memeluk bakulnya. Sundari menempelkan bahu ke roda gerobak. Kayu roda itu hangat oleh matahari dan berbau getah kelapa.

Derap kuda lewat. Sangat dekat. Ia melihat kaki kuda cokelat itu di celah antara roda dan papan gerobak, kuku yang dipasangi besi, debu yang naik dan turun lagi. Ia melihat sepatu kulit di sanggurdi. Ia melihat ujung kain celana yang gelap, dan di atasnya, tangan yang tergantung lepas di sisi tubuh.

Tangan itu bergerak. Jari tengahnya memutar cincin. Setengah lingkaran. Kembali.

Kuda itu berhenti.

Sundari tidak bernapas. Laras tidak bernapas. Di sekitar mereka pasar menjadi diam, tidak sepenuhnya, tetapi cukup diam untuk mendengar seekor ayam di keranjang berkokok sekali dan dibungkam pemiliknya.

Lalu kuda cokelat itu berjalan lagi. Tidak ke arah gerobak. Ke arah tengah pasar, ke tempat tanah agak lapang di depan lapak penjual garam, tempat orang biasa berkumpul kalau ada yang hendak diumumkan.

Laki-laki pucat itu tidak turun. Ia mengulurkan sesuatu dari atas kuda. Selembar kertas, dilipat dua. Seorang lelaki berpakaian istana yang sejak tadi berdiri di sana mengambilnya dengan dua tangan, membungkuk, lalu membuka lipatan itu.

Lelaki itu juru bicara. Sundari tahu karena suaranya terlatih, keras dan rata, suara yang dipakai untuk menyampaikan kata orang lain.

Ia membaca dalam Jawa dulu, lalu Melayu. Sundari menangkap yang Melayu.

Kumpeni mencari seorang perempuan. Penari ledek. Dari rombongan yang datang dari Selo. Kulitnya gelap, orang Bali. Perempuan ini menari di gang-gang pada malam hari bersama hantu-hantu. Perempuan ini menculik anak.

Seseorang di kerumunan mendengus. Seseorang yang lain berbisik kepada temannya.

Siapa yang melihat perempuan ini, harus melapor ke loji. Siapa yang menyembunyikannya, ikut dihukum. Anak-anak yang hilang di kota ini sudah dikumpulkan Kumpeni untuk dilindungi dari perempuan itu.

Laras menutup mulutnya dengan tangan.

Juru bicara itu melipat kertas lagi. Laki-laki pucat itu memandang kerumunan dari atas kuda. Matanya bergerak lambat, dari satu wajah ke wajah lain, dari lapak ke lapak, seperti orang menghitung kambing di kandang.

Lalu matanya berhenti di gerobak kelapa.

Ia tidak bisa melihat mereka. Sundari tahu ia tidak bisa. Gerobak itu tinggi, penuh kelapa, dan bayangannya menutup ruang di antara roda dan dinding. Tetapi mata itu berhenti di sana, dan cincin di jarinya berhenti berputar, dan di belakang gerobak, di dalam bayangan, Sundari merasakan tatapan itu di kulit pelipis kirinya, di tempat yang dulu disobek perunggu.

Tatapan itu berpindah. Ke lapak garam. Ke penjual sirih. Ke anak-anak yang ditarik ke balik bakul.

Laki-laki pucat itu menyentak tali kekang. Empat kuda berbalik dan berjalan keluar dari pasar, pelan, sama pelannya dengan ketika mereka masuk.

Pasar tidak langsung ramai lagi.

Di samping Sundari, Laras menangis tanpa suara. Bahunya naik dan turun, dan bakul di pelukannya bergetar, dan telur-telurnya beradu pelan. Ia tidak mengusap matanya. Ia memandang Sundari dengan wajah basah.

“Kamu,” bisiknya. “Mereka bilang kamu.”

Sundari memandang tanah di depan roda gerobak. Ada jejak kuku kuda di sana, dalam, dengan bekas paku besi yang membentuk lengkung kecil di setiap tepinya.

Ia tidak menculik siapa pun. Ia menggendong seorang anak pulang lewat pematang, dan anak itu tidak melepaskan ujung kainnya sepanjang jalan.

Tetapi kertas itu sudah dibacakan. Kata-kata itu sudah keluar dari mulut juru bicara, masuk ke telinga orang-orang di pasar, dan sore nanti kata-kata itu akan sampai ke dapur-dapur, ke sumur-sumur, ke anak-anak yang ditidurkan dengan cerita.