Syntories

Hati yang Tidak Patah — Bab 1

Bab 1

Setiap pagi aku menyemprotkan parfum seharga sembilan juta ke pergelangan tanganku.

Botolnya bukan milikku. Itu botol tester, gratis untuk dicoba.

Psst.

Wangi melati dan kayu. Pergelangan itu kutekan ke hidung, lama.

Namaku Bia. Pekerjaanku beauty advisor, biasa disingkat BA, di konter parfum lantai dasar Skenia Mall, mal paling mewah di Arcadia City. Tugasku menjual wangi dan tersenyum.

Jam 09:45. Lima belas menit lagi mal dibuka.

Lampu atrium menyala satu per satu. Marmer putih berkilau sampai ujung. Eskalator bergerak tanpa penumpang. Etalase Gucci, Cartier, dan Louis Vuitton masih tertutup tirai tipis. Seorang penjaga toilet lewat mendorong ember beroda, kepalanya menunduk.

Botol-botol kristal di balik kaca kurapikan. Lurus, label menghadap depan. Seragam hitamku licin, rambutku diikat, lipstikku merah muda sesuai aturan konter.

Di cermin konter, senyum itu kulatih. Lebar sedikit. Gigi kelihatan sedikit.

Pas.

Jam 10:00. Pintu kaca terbuka. Ding.

Sepasang kekasih datang paling pagi. Cowok berkemeja biru, ceweknya bergaun putih dengan rambut panjang tergerai. Jari mereka bertaut.

Cowok itu langsung bertanya kepadaku.

“Kak, yang paling wangi apa?”

Kulirik ceweknya.

“Untuk Kakaknya?”

Cowok itu mengangguk. Matanya tidak lepas dari pacarnya.

Botol mawar kuambil dari rak, harganya tiga juta delapan ratus ribu. Senyumku kuarahkan ke si cewek.

“Boleh tangannya, Kak?”

Si cewek mengulurkan pergelangannya. Kulitnya halus, ada gelang emas tipis di sana.

Psst.

Cowok itu menarik pergelangan pacarnya, mendekatkannya ke hidung, lalu menciumnya. Di depanku. Lama.

Si cewek tertawa kecil. Pipinya merah.

Kertas tester yang sudah rapi kurapikan lagi.

Cowok itu mengangkat dua jari ke arahku.

“Ambil, Kak. Dua.”

Dua kotak kubungkus dengan pita emas dan kartu ucapan. Tanganku cepat. Sudah biasa.

“Terima kasih, Kak. Semoga suka.”

Mereka naik eskalator ke lantai dua, masih bergandengan. Si cewek bersandar di bahu pacarnya. Mataku mengikuti mereka sampai hilang.

Di eskalator seberang, seorang lelaki berjas gelap naik ke lantai atas. Dua lelaki muda berjalan setengah langkah di belakangnya. Orang-orang menepi memberinya jalan. Di tengah eskalator, dia menoleh ke arah konter parfum. Satu detik.

Laci kecil di bawah kasir kubuka. HP-ku di sana, layarnya retak di pojok kiri. Ibu jariku mengusap retakan itu. Kebiasaan.

Ada satu nama yang paling sering kubuka. Adam. Di HP-ku kusimpan dengan nama Sayang.

Pacarku. Sopir truk kontraktor di tambang emas Pulau Auria, jauh di seberang laut. Auria juga kampungku.

Gajinya kecil, sudah dipotong kontraktor untuk mess dan makan. Di sana sinyal susah sekali.

Bulan depan, kalau tabunganku cukup, aku mau pulang dan menemuinya. Sudah hampir setahun kami tidak bertemu.

Pesanku untuknya masih di layar.

Sayang, sudah makan?

Dikirim kemarin jam 21:03. Sejak subuh centangnya dua, artinya sudah sampai ke HP-nya. Belum biru. Belum dibaca.

Nora, BA konter jam tangan di sebelah, melongok ke layarku.

“Belum dibalas lagi, Bi?”

“Sinyal.”

“Dari kemarin?”

Laci kututup. Senyumku kembali ke cermin.

“Biasa. Orang tambang memang begitu.”

Dia mengangkat bahu dan kembali ke konternya.

Botol yang testernya kupakai tiap pagi itu botol termahal di konter ini. Harganya sama dengan tiga bulan gaji pacarku.

Laci kubuka lagi. Ibu jariku menggulir ke atas, mencari pesan terakhir darinya.

Shift malam. Nanti kabari.

Tiga hari lalu. Tapi di bawah namanya ada tulisan kecil.

Terakhir dilihat hari ini, 09:12.