Monster of Java — Bab 1
Bab 1
Air kali menyentuh telapak kakinya, dingin, dan dari dingin itu Sundari tahu ia punya telapak kaki lagi.
Ia berbaring di tepi kali, separuh di lumpur, separuh di rumput yang basah embun. Langit di atasnya pucat. Belum pagi, sudah tidak malam. Seekor burung kecil melompat di batu di dekat kepalanya, memandangnya dengan satu mata, lalu terbang.
Ia tidak bergerak untuk beberapa lama.
Tubuhnya berat, tetapi bukan berat yang semalam. Berat ini berat yang biasa, berat tubuh yang lelah, berat lengan yang terlalu lama tertindih dan kaki yang terlalu lama berjalan. Ia mengangkat tangan kanan ke depan wajah. Tangan itu tangannya. Jari-jari yang biasa. Telapak yang biasa, dengan kapalan di pangkal jari dari ribuan kibasan sampur.
Kulit di punggung tangan itu pecah.
Garis-garis tipis, merah, seperti tanah sawah yang retak di musim kemarau. Di pergelangan, di lengan, di bahu. Ia menyentuh salah satu garis itu dengan ibu jari, dan perihnya kecil, jauh, seperti perih yang tertinggal dari luka orang lain.
Ia duduk.
Kepalanya berputar. Ia menunggu putaran itu berhenti, dengan kedua tangan di lumpur. Bau lumpur, air, daun busuk. Dari kejauhan, sangat samar, bau lain yang tidak hilang dari hidungnya. Asap. Mesiu. Atap yang terbakar.
Alun-alun.
Ingatannya tidak datang sebagai gambar. Ingatannya datang sebagai potongan-potongan yang tidak mau tersusun. Berat. Panas di satu sisi tubuh. Tubuh-tubuh kecil berbaju gelap yang jatuh ringan seperti boneka jerami. Bunyi yang tidak berubah dari arah utara. Dan satu tangan, terbuka, di tanah, dengan jari-jari yang sedikit melengkung.
Ia tidak tahu apa yang ia lakukan dengan tangan itu. Ia tahu tangan itu utuh.
Ia memandang ke bawah, ke lumpur di sampingnya.
Di sana ada jejak kakinya sendiri. Kecil, telanjang, dengan jari-jari yang menekan lumpur dan tumit yang lebih dalam. Jejak itu datang dari arah kali, dari air, dan berhenti di tempat ia berbaring.
Di samping jejak itu ada jejak lain.
Jejak itu terlalu besar. Lebih panjang dari lengannya, dari ujung jari sampai siku. Lebih dalam, seperti lumpur itu ditekan oleh sesuatu yang lebih berat dari kerbau. Jejak itu juga datang dari arah kali, dari air, dan di tempat ia berbaring, jejak itu berhenti.
Dua jejak. Datang dari arah yang sama. Berhenti di tempat yang sama.
Sundari memandang kedua jejak itu sampai matahari pertama menyentuh pucuk pohon di seberang kali.
Lalu suara datang dari pematang di atas tepi kali. Dua orang. Lelaki, berjalan cepat, berbicara rendah dalam bahasa Jawa yang tergesa. Petani, dari bunyi cangkul yang beradu dengan cangkul di bahu mereka.
Sundari merunduk di balik rumpun gelagah.
“…di alun-alun,” kata salah satunya. “Tinggi. Lebih tinggi dari beringin, kata adikku. Dia lihat dari atap.”
“Nenek-nenek,” kata yang lain.
“Nenek-nenek raksasa. Dadanya…” Lelaki itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menggeleng, dan temannya ikut menggeleng, dan keduanya berjalan lebih cepat, seperti orang yang tidak mau berada di pematang ini lebih lama dari perlu.
Suara mereka menjauh. Cangkul mereka beradu sekali lagi.
Sundari tetap di balik gelagah. Jari-jari tangan kirinya, yang pecah-pecah kulitnya, mengetuk lumpur. Kelingking. Manis. Tengah. Telunjuk. Ia tidak menghentikannya.