Smart Woman — Bab 1
Bab 1
Tisu itu ada di tasku. Satu bungkus. Yang paling murah di warung Vera.
Kubeli pagi tadi di warung Vera, dua ribu. Tanganku mengambilnya sendiri. Aku membenci tanganku karena itu.
Bawa tisu yang banyak. Untuk Ibu Menterimu.
Senin. Jam tiga sore. Arcadia Palace.
Ruang tunggu istana lebih besar dari Wisma Derrida. Langit-langitnya tinggi. Lukisan presiden-presiden lama menatap dari dinding. Wajah mereka semua tersenyum. Tidak ada yang tampak lelah.
Kursi beludru merah. Kududuki ujungnya saja. Tas kudekap di dada.
Eris masuk ke ruang Presiden dua puluh menit lalu. Pintunya tinggi. Dua pengawal berdiri di kiri dan kanan. Tidak berkedip.
Jam antik di sudut berdetak. Tik. Tok.
Seorang pelayan istana menuang teh untukku. Tangannya gemetar sedikit. Dia tidak menatapku.
Aku tidak berani minum. Cangkirnya terlalu tipis. Pinggirannya emas.
Isi dompet kuhitung dalam kepala. Sisa gaji minggu lalu. Cukup untuk dua bulan kos. Tidak cukup untuk mengganti satu cangkir ini kalau pecah.
Jadi aku melipat tangan di pangkuan. Diam. Tidak bergerak.
Lalu terdengar suara itu dari tangga.
Tuk. Tuk. Tuk.
Hak tinggi. Lambat. Teratur.
Aku mendongak.
Gaun krem. Mutiara di leher. Sanggul sempurna.
Imelda turun dari tangga marmer. Dua ajudan mengikutinya. Dia tidak berhenti. Dia hanya menoleh sedikit.
Matanya turun ke tasku. Ke ujung bungkus tisu yang mengintip dari resletingnya.
Dia tersenyum. Lembut. Keibuan.
“Bawa tisu, Sayang?”
Jariku mencengkeram tali tas. Kukuku memutih.
Dia tidak menunggu jawaban. Dia terus berjalan. Wangi lili tertinggal di udara. Pekat. Memualkan.
Punggungnya kutatap sampai hilang di koridor.
Lalu aku sadar mulutku masih terbuka. Kututup. Pelayan teh melihatnya. Dia cepat-cepat memalingkan wajah.
Dia tahu. Dia tahu pesan itu. Dia tahu jadwal ini.
Tentu saja dia tahu. Ini rumahnya. Setiap tamu Presiden lewat di depan matanya.
Tanganku dingin. Tisu itu kumasukkan lebih dalam ke tas. Seolah bisa menyembunyikannya.
Di dinding seberang, sebuah layar televisi menyala tanpa suara. Berita sore. Cuaca. Harga beras.
Lalu layar berubah merah.
Tulisan putih berjalan di bawah. Huruf besar.
Kubaca sekali. Dua kali.
Pelayan yang menuang teh berhenti di tengah ruangan. Teko di tangannya miring.
Teh menetes ke karpet merah. Dia tidak sadar.
Dua pengawal di pintu Presiden saling melirik. Satu menyentuh alat di telinganya. Bibirnya bergerak tanpa suara.
Pintu ruang Presiden masih tertutup.
Di layar, foto Eris. Jas hitam. Wajah datar.
Di bawahnya.
BREAKING. Menteri Keuangan diduga gelapkan pajak tambang Auria.