Syntories

Sura — Bab 1

Bab 1

Roda gerobak menghantam lubang, dan lutut kanan Sundari membentur papan.

Sakitnya datang terlambat. Lebih dulu bunyi kayu, lalu getaran yang naik ke paha, lalu panas basah yang merembes dari kerak di tempurung lutut. Kerak itu pecah. Ia tahu karena kainnya menempel lagi ke kulit, hangat, lalu dingin.

Ia tidak menarik kakinya. Kaki itu tetap di tempat lubang meninggalkannya.

Matahari sudah tinggi di atas jalan. Cahayanya masuk lewat celah atap bambu dan jatuh di lututnya, di pergelangan kirinya, di garis merah yang ditinggalkan tali rami. Jari-jari tangan kanannya mengetuk papan gerobak. Kelingking, manis, tengah, telunjuk. Kelingking, manis, tengah, telunjuk. Ketukan itu tidak berhenti sejak fajar, dan tidak ada yang memintanya berhenti.

Laras duduk di depannya dengan lutut ditekuk ke dada. Napasnya pendek. Sejak gerobak keluar dari Selo, Laras belum tidur, dan matanya yang besar terus berpindah dari wajah Sundari ke celah papan belakang, ke jalan yang mereka tinggalkan.

Di sampingnya, Ki Joyo bersandar ke dinding gerobak. Telapak kakinya dibungkus kain yang sudah cokelat. Satu tangannya memegang lengan atas Sundari, tidak erat, hanya ada. Jari-jari tangan itu diam.

Kuda kurus di depan mendengus. Penabuh tua yang memegang tali kekang menggumamkan sesuatu kepadanya, kata-kata yang biasa diucapkan kepada binatang yang lelah.

Lalu tangan Joyo mengencang.

Sundari merasakannya sebelum mendengar apa pun. Jari-jari tua itu menekan lengannya sampai ke tulang. Laras menegakkan badan. Napas pendeknya berhenti.

Dari belakang, jauh, ada bunyi yang bukan bunyi roda.

Derap. Lebih dari satu kuda. Bunyi kaki yang dipacu di tanah keras, rapat, makin rapat, mendekat dari arah Selo.

“Ki.” Suara Laras tipis. “Ki, itu…”

Joyo tidak menjawab. Ia menoleh ke depan, ke punggung penabuh tua, dan mengucapkan satu kata dengan suara yang tidak pernah Sundari dengar darinya. Penabuh tua menyentak tali kekang. Kuda kurus itu meringkik dan mempercepat langkahnya, sedikit, sebanyak yang bisa diberikan tubuh yang sudah setengah mati.

Gerobak berguncang lebih keras. Lubang-lubang di jalan datang lebih sering. Lutut Sundari membentur papan, sekali, dua kali, tiga kali, dan setiap kali hangat yang sama merembes keluar dari tempat yang sama. Kepalanya terayun ke kiri dan membentur tiang bambu. Matanya tetap terbuka.

Di belakang gerobak, dua penari dan tiga penabuh berjalan kaki. Sekarang mereka berlari. Ia mendengar terompah kayu yang terlepas, seseorang yang tersandung dan bangkit, napas yang terputus-putus.

Derap itu lebih dekat. Sekarang ada suara lain di dalamnya. Teriakan pendek. Kata-kata dengan bunyi yang menggesek gigi.

“Wacht!”

Kata itu masuk ke telinganya dan menempel.

Ia pernah mendengar kata itu. Di mulut ceruk di Bukit Selo, di bawah bulan, dari mulut laki-laki pucat bercincin yang memotong tali di pergelangannya dan menyuruhnya menari. Tubuhnya mengenal kata itu sebelum kepalanya. Berat badannya ingin turun ke kaki kiri. Bahu kanannya ingin mundur.

Tidak ada yang turun. Tidak ada yang mundur. Tubuhnya duduk bersandar di dinding gerobak, dan keinginan itu tinggal di dalam, terkunci di sendi-sendi yang tidak mau mendengar apa pun sejak puncak bukit.

Jari-jarinya terus mengetuk. Kelingking, manis, tengah, telunjuk.

“Verrader!”

Kata kedua. Lebih dekat. Kata yang di pendopo Bekel Rekso dijatuhkan ke punggungnya seperti batu.

Laras menutup mulut dengan kedua tangan. Joyo bergeser, menempatkan bahunya di antara Sundari dan papan belakang gerobak, seolah papan bambu itu tidak cukup.

“Ki, mereka ke sini.” Laras berbisik ke tangannya sendiri. “Mereka cari dia. Mereka cari…”

“Diam.”

Joyo tidak pernah menyuruh Laras diam. Laras diam.

Kuda kurus di depan tersandung. Gerobak miring ke kiri, satu roda terangkat, lalu terhempas lagi ke tanah, dan semua yang ada di dalamnya terlempar ke sisi yang sama. Kepala Sundari membentur bahu Joyo. Bau keringat tua, bau kain basah, bau minyak kendang yang tidak pernah hilang dari tubuh orang itu.

Lalu derap itu ada di samping gerobak.

Dari celah papan, ia melihat kaki kuda. Kaki cokelat, berkeringat, dengan bulu di atas kuku yang berlumpur. Lalu sepatu kulit di sanggurdi. Lalu kaki kuda lain di sisi yang lain.

Gerobak tidak bisa lebih cepat. Penabuh tua berteriak kepada kudanya. Seseorang di luar berteriak kepada penabuh tua dalam bahasa Melayu yang patah. Berhenti. Berhenti.

Penabuh tua tidak berhenti.

Bunyi letusan memecah udara di atas gerobak. Tidak ada yang kena. Bunyi itu hanya naik ke langit, keras dan kering, dan burung-burung meninggalkan pohon di tepi jalan sekaligus. Kuda kurus itu berhenti sendiri. Kakinya gemetar. Kepalanya tertunduk.

Gerobak diam.

Di luar, napas-napas yang berlari ikut berhenti. Seseorang menangis tertahan. Kuda-kuda Kumpeni mendengus, berputar di tempat, dan sepatu-sepatu kulit turun ke tanah.

Laras menggenggam ujung kain Sundari dengan dua tangan.

Joyo menegakkan badan. Kakinya yang dibungkus kain bergeser di lantai gerobak. Ia membuka mulut, mungkin untuk bicara kepada mereka di luar, mungkin untuk berbicara kepada Sundari, dan tidak ada yang keluar.

Langkah-langkah berat mengelilingi gerobak. Satu di kiri. Satu di kanan. Satu di belakang, berhenti tepat di balik tirai kain yang menutup bagian belakang gerobak.

Bau itu masuk lewat celah tirai.

Mesiu. Kulit samak. Keringat orang yang sudah berkuda sejak sebelum fajar.

Jari-jari Sundari mengetuk papan. Kelingking, manis, tengah, telunjuk. Kelingking.

Tirai bergerak. Ujung besi yang bulat dan gelap menyelip di antara kain dan tiang bambu, lalu menyibakkan tirai itu ke samping, pelan.

Cahaya siang masuk sekaligus.

Moncong senapan itu berhenti sejengkal dari lututnya yang berdarah.