Syntories

Algoritma Cinta — Bab 1

Bab 1

Minggu, 12:41. Lorong pertama Candi Borobudur.

Karl mengangkat pemindai ke dinding batu dan menunggu tablet menjawab. Empat hari dia mengejar satu angka dari Palo Alto, termasuk satu penerbangan tujuh belas jam. Angka itu tidak muncul. Di sudut layar hanya ada dua kata, Data pembanding korup.

Di belakangnya, seorang gadis berhoodie abu-abu berdiri dengan tangan di saku.

“Anda berdiri di depan ini sepuluh menit,” kata gadis itu, “dan nggak sekali pun melihatnya.”

Enam hari sebelumnya, gadis itu hanya punya Rp 75.400.


Layar laptop memancarkan cahaya putih yang dingin ke wajah Ceria. Pukul 23:14. Di layar itu, baris-baris kode Python untuk tugas Algoritma Dasarnya tersusun rapi. Bersih. Logis.

if… else…

Sebuah logika sederhana. Jika A benar, maka lakukan B.

Ceria, gadis 19 tahun, berharap hidup semudah itu.

Di kamar kos kecil ini, logikanya kacau. Udara pengap, campuran samar antara tumpukan pakaian yang belum sempat dicuci dan bau mi instan sisa tadi sore. Di luar, gerimis dan knalpot becak motor Jogja sesekali lewat, jauh dari Jakarta tempat dia dibesarkan.

Jemarinya, yang lincah di atas keyboard saat memperbaiki kode, menggantung ragu di atas touchpad, lalu bergerak ke ponsel di sebelahnya.

Dia menyentuh ikon m-banking. Wajahnya terpindai. Angka itu muncul.

Rp 75.400

Napas yang sejak tadi ditahannya keluar begitu saja.

Ceria mulai menghitung. Ini sudah menjadi ritual.

Galon isi ulang Rp 19.000, wajib. Mi instan tiga kali makan Rp 21.000. Sisa Rp 35.400, cukup untuk tiga hari, empat kalau makan dua kali.

Tapi angka-angka itu bohong. Itu pengalih perhatian. Ada angka lain yang jauh lebih besar, dan angka itu tidak tertera di layar.

Rp 500.000.

Uang sewa kamar kos. Jatuh tempo besok. Dan Ceria tahu persis apa yang akan terjadi besok pagi. Ibu Kos tidak akan lagi mengirim WhatsApp. Dia akan menggedor pintu.

Dia meletakkan ponsel. Matanya menerawang ke kode di layar. Logika berhenti bekerja.

Tepat saat itu ponselnya bergetar di atas meja kayu tipis, kasar, memekakkan telinga.

Jantung Ceria melompat. Ibu Kos? Malam-malam?

Dia meraih ponsel itu. Nama di layar bukan ancaman.

Mama.

Ceria berdeham, sekali, dua kali, mengusir getar di pita suaranya. Dia memaksakan senyum yang tidak akan terlihat, tapi suaranya membutuhkannya. Dia menggeser ikon hijau.

“Assalamualaikum, Ma.”

“Waalaikumsalam, C!” Suara di seberang renyah, penuh energi. Suara rumah. “Belum tidur? Tumben jam segini masih melek?”

“Eh, iya, Ma. Biasa, nugas.” Matanya melirik baris kode di laptop. Itu satu-satunya hal jujur yang bisa dia katakan malam ini.

“Ooh, pantes. Gimana-gimana? Lancar kuliahnya? Kamu baik-baik aja, kan, di sana? Sehat?”

Pertanyaan itu. Dia melirik dua bungkus mi instan di atas rak. Dia membayangkan gedoran pintu Ibu Kos besok pagi.

“Baik, Ma.” Suaranya dia paksa setenang mungkin. “Baik, kok. Semua… semua aman.”

Hening sejenak. Lalu suara Mama turun, penuh kelegaan. “Syukurlah…”

Mama diam sebentar, lalu suaranya naik lagi. “Mama bangga banget sama kamu. Serius. Anak cewek berani merantau, ngambil kuliah IT pula. Keren itu.” Dia tertawa kecil. “Papamu di sana pasti bangga banget lihat kamu.”

Papa sudah tiada, dan “di sana” di mulut Mama selalu berarti tempat itu. Satu tetes air mata lolos. Hanya satu. Asin di sudut bibirnya.

“Dulu waktu kamu belajar jalan,” lanjut Mama, suaranya melunak, “jatuh di ubin, kamu nggak nangis. Kamu malah ketawa. Selalu ceria, hehe. Kayak namamu.”

“Iya, Ma,” bisik Ceria. Suaranya serak.

“Ya sudah, tidur gih. Jangan diforsir terus. Inget, makan yang bener!”

“Iya, Ma. Pasti. Mama juga sehat-sehat ya di sana.”

Panggilan berakhir. Layar ponsel kembali gelap.

Kamar 3x3 itu kembali sunyi.

Selalu ceria.

Ceria menunduk. Air matanya jatuh di atas touchpad, mengacaukan pantulan cahaya dari kode Python yang logis itu. Dia mengusapnya dengan lengan kaus, lalu menekan Ctrl+S. Di sudut layar, jam berganti menjadi 23:41.

Kode itu bisa menunggu sampai besok pagi. Ibu Kos tidak.