Syntories

Four Ladies — Bab 1

Bab 1

Udara kamar pengap. Tenggorokanku perih.

Alarm ponsel berbunyi jam 06:00. Satu-satunya suara di Wisma Derrida yang sunyi.

Handuk kusambar. Lima menit cukup untuk memastikan aku masih manusia. Mandi.

Kamar kos 3x3 meter ini duniaku. Duduk di kasur tipis. Meja kecil di sampingku. Di atasnya, kaleng susu bekas.

Isi kaleng itu kutuang ke atas kasur. Koin-koin jatuh dengan bunyi kering.

Lima ribu. Sepuluh ribu. Lima belas ribu.

Rp 15.000.

Perutku berbunyi. Keras.

Hanya cukup untuk naik bus. Atau makan. Bukan dua-duanya.

Aku menatap uang itu. Panas naik ke wajah. Rahangku mengeras.

Kuambil uang itu. Cepat. Sebelum aku goyah.

“Tidak apa. Aku bisa tahan.”

Keluar kamar. Turun tangga kayu yang berderit. Warung kopi di ujung gang sudah buka. Vera sedang mencuci gelas. Aku menghampirinya.

“Kopi hitam.”

Vera menuangkan kopi hitam pekat ke gelas plastik bekas. Dia melirik dari ujung mata. Tatapan yang bilang aku bukan siapa-siapa.

Aku meminumnya di sana. Berdiri.

Pahit. Getir. Seperti menggigit kulit kayu.

Kafein itu masuk. Kepalaku berdenyut. Perutku tersengat.

Lima ribu. Gelas kosong kuletakkan. Keluar dari gang sempit menuju halte.

Bus tua berhenti. Pintu terbuka dengan dengung keras. Aku naik.

Sepuluh ribu. Kursi paling belakang. Terik matahari mulai terasa menembus jendela bus.

Arcadia City mulai terlihat. Gedung-gedung tinggi, video reklame tentang kesempurnaan hidup. Kota ini bukan untukku, tapi aku ada di sini.

Mobil-mobil bercat mulus melaju. Kaca-kacanya gelap. Memantulkan trotoar yang retak.

Bus bergetar setiap kali melewati sambungan jalan. Tubuhku ikut terayun. Tanganku menggenggam pegangan kursi. Telapakku kering.

Orang-orang di luar berjalan cepat. Rapi dan sibuk. Mereka terlihat seperti bagian dari dunia yang teratur.

Kutarik napas. Udara bus pengap. Bau mesin tua dan debu bercampur.

“Tidak apa,” bisikku lagi. Lebih pelan. “Aku bisa tahan.”

Di kaca sudut jendela bus, wajahku pucat. Mata cekung. Rambut kusut.

Aku teringat surat ibu. “Anya, kamu rumput liar. Rumput liar tidak akan mati diinjak.”

Bus berhenti. Kementerian Keuangan sudah di depan mata. Menara kaca masif. Mengintimidasi warung tenda yang menempel di sudut gang sebelahnya.

Aku turun. Berdiri di trotoar. Bibir menahan getir sisa kopi pahit. Kugigit bagian dalam pipi. Tidak boleh pecah di sini.

Tarik napas. Dalam.

Lalu melangkah masuk.

Di lobi marmer, seorang penjaga keamanan berbadan besar menatapku dari atas ke bawah. Dari sepatu lusuh hingga blazer pudar satu-satunya yang kubawa dari Pulau Verida.

Nadanya meremehkan.

“Anda tersesat, Nona?”