Ke Mana Perginya Energi? — Tiga nada yang hilang
Bab 1 — Tiga nada yang hilang
Setiap pagi, sambil menyeduh teh, Wong Nam bersenandung. Lagunya selalu sama. Lagu itu naik turun dengan pelan, lalu menjelang akhir ada tiga nada yang naik seperti orang menaiki tangga.
Tapi Wong Nam tidak pernah menyanyikan tiga nada terakhir itu. Ia selalu berhenti tepat di situ.
“Kakek lupa ujungnya,” katanya setiap kali Iota bertanya.
Sore itu Wong Nam pulang membawa sebuah kotak musik kecil. Kotaknya dari kayu, tutupnya bening. Di sisinya ada kunci kecil untuk diputar.
“Kakek menemukannya di toko barang lama,” katanya. “Coba dengar lagunya.”
Iota memutar kunci kecil itu. Satu putaran. Lalu satu lagi.
Di balik tutup bening, sebuah silinder logam mulai berputar. Silinder itu penuh tonjolan kecil, seperti kulit jeruk yang berbintil. Di sampingnya ada sederet bilah logam tipis, berjajar seperti gigi sisir. Setiap kali sebuah tonjolan lewat, ia memetik satu bilah, dan satu nada kecil berbunyi.
Iota terbelalak. Itu lagu Kakek! Lagu yang disenandungkan setiap pagi.
Ia menunggu tiga nada terakhir. Akhirnya ia akan mendengar ujungnya.
Tapi sebelum nada pertama dari tiga nada itu datang, silinder melambat. Satu bunyi pendek terdengar. Lalu kotak musik diam.
“Lho! Lagunya belum selesai.”
Iota mendekatkan telinga. Sunyi. Silinder tidak berputar lagi.
“Rusak?”
“Tadi dia berbunyi,” kata Wong Nam. “Coba lihat apa yang berhenti.”
“Silindernya berhenti berputar,” kata Iota. “Jadi tidak ada yang memetik bilah lagi.” Ia menyentuh kunci di sisi kotak. “Tapi tadi aku sudah memutar ini. Putaran tanganku ke mana?”
“Di dalam kotak ada pegas,” kata Wong Nam. “Pita logam panjang yang tergulung, seperti gulungan pita kado. Waktu kau memutar kunci, gulungannya makin rapat.”
Iota memutar kunci sedikit, hati-hati. Makin jauh ia memutar, makin berat rasanya. Seperti ada sesuatu di dalam yang mendorong balik.
“Pegasnya menyimpan tenaga dari tanganku,” katanya.
“Benar. Lalu pegas itu pelan-pelan membuka gulungannya lagi. Saat membuka, ia memutar silinder.” Wong Nam mengetuk tutup bening dengan ujung jari. “Tenaga untuk membuat sesuatu bergerak atau berbunyi seperti itu, orang yang belajar fisika menyebutnya energi.”
“Energi,” ulang Iota. Ia suka bunyi kata itu.
“Tadi kau hanya memutar dua kali. Energinya cukup untuk memulai lagu, tapi belum cukup untuk sampai ke ujung.”
Iota hendak memutar kunci lagi. Kali ini banyak-banyak, supaya ia bisa mendengar tiga nada terakhir itu. Tapi Wong Nam menutup kunci dengan telapak tangannya, pelan saja.
“Sebentar. Sebelum kita isi lagi, coba cari tahu dulu: energi yang tadi sudah dipakai, ke mana perginya?”
Iota memandang kotak musik yang diam. Tadi lagunya memenuhi ruang tamu. Sekarang tidak ada apa-apa.
Ke mana perginya?