Syntories

Mengapa Belanjaan Meluncur Saat Troli Berhenti? — Troli yang belum mau berhenti

Bab 1 — Troli yang belum mau berhenti

Wong Nam menyelipkan daftar belanja ke saku bajunya. Iota menarik ujung kertas itu sebelum terselip seluruhnya.

“Roti, susu, pisang,” bacanya. “Sereal boleh?”

“Boleh. Besok pagi kita sarapan sereal bersama.”

“Aku yang menyiapkan dua mangkuk!”

Mereka masuk ke supermarket. Di dekat pintu, Wong Nam mengambil sebuah troli. Keranjangnya kosong. Troli itu diam saja di tempatnya, sampai Iota meletakkan kedua tangan pada pegangannya dan mendorong.

Empat roda kecil berputar di bawah keranjang. Troli maju. Wong Nam berjalan di sampingnya, cukup dekat untuk membantu kalau troli berbelok.

Lorong pertama lebar dan sepi. Iota mendorong troli sampai meluncur dengan enak, lalu ia melepaskan kedua tangannya dari pegangan.

Troli masih terus maju. Rodanya masih berputar.

Iota berjalan di belakangnya, tangannya di udara. Troli maju sedikit lagi, makin pelan, makin pelan. Sebelum troli sampai ke ujung rak, Wong Nam memegang sisi keranjang dan menahannya.

“Kek, tanganku sudah lepas,” kata Iota. “Kenapa trolinya tidak langsung berhenti?”

“Coba kau ingat. Waktu kau mendorong, troli ke mana?”

“Ke depan.”

“Lalu waktu kau melepaskan tanganmu?”

“Masih ke depan.” Iota mengernyit. “Tapi makin pelan, lalu berhenti.”

Wong Nam menunggu sampai tidak ada orang lewat. Lalu ia mengajak Iota berjongkok di samping troli. Dari situ mereka bisa melihat satu roda depan dengan jelas.

Iota mendorong troli sekali lagi, sedikit saja, lalu melepaskannya. Roda kecil itu berputar… melambat… lalu diam.

“Ada yang membuat trolinya melambat,” kata Iota.

“Menurutmu apa?”

Iota memandang roda yang menempel di lantai. “Roda dan lantai. Mereka bergesekan terus.”

“Juga bagian-bagian di dalam roda yang saling bergesekan,” kata Wong Nam. “Gesekan itu menahan troli sedikit demi sedikit.”

Iota berdiri. Ia memandang troli itu dengan cara yang baru. Troli tidak berhenti karena tangannya lepas. Troli berhenti karena ada yang terus menahannya.

“Sekarang susunya,” kata Wong Nam.

Iota mengambil dua kotak susu. Ia meletakkannya berdampingan di dasar keranjang, dekat sisi depan. Permukaan kotak susu itu halus dan licin. Wong Nam memilih roti. Mereka berjalan ke rak sereal.

Di depan rak itu, Iota membaca nama-nama pada kotak. Ia memilih satu yang bergambar bintang-bintang kecil.

Ia meletakkan kotak sereal itu di atas dua kotak susu. Kotak itu berbaring di sana dengan tenang, tidak terjepit apa pun, agak jauh dari sisi depan keranjang.

Tidak ada yang tahu bahwa sebentar lagi kotak sereal itu akan meluncur.