Amerta — Tali
Bab 1: Tali
Seorang pencerita tiba di hutan Naimisa dengan kabar tentang api yang pernah dinyalakan untuk membakar semua ular di dunia.
Namanya Ugrasrawa. Kakinya berdebu, dan ia menangkupkan kedua tangan di depan dada kepada para resi yang sedang duduk di bawah pohon. Mereka sedang menjalankan kurban yang lamanya dua belas tahun. Asap dari api mereka naik tipis di antara dahan, dan bau mentega yang terbakar menempel di jubah-jubah mereka.
Mereka mengenalnya. Ayahnya dulu juga pencerita, dan pernah duduk di tempat yang sama. Sesudah ia beristirahat, seorang resi bertanya dari mana ia datang.
“Dari kurban ular seorang raja muda,” jawab Ugrasrawa. “Namanya Janamejaya. Di sana, di sela upacara, aku mendengar kisah leluhurnya dituturkan dari awal sampai akhir.”
Seorang resi muda berhenti menuang mentega ke api.
“Kurban ular?” tanya resi yang paling tua. “Kenapa seorang raja ingin membakar ular? Dan kalau semua ular sudah terbakar, kenapa masih ada ular di hutan ini?”
Ugrasrawa meneguk air dari kendi yang disodorkan kepadanya, lalu tersenyum sedikit. “Karena kurban itu dihentikan,” katanya. “Oleh seorang anak. Kisahnya sudah lama kuhafal dari ayahku, kata demi kata. Tetapi raja itu bukan awal kisahnya. Awalnya jauh sebelum raja itu lahir, ketika dunia masih muda, dan para dewa membutuhkan seutas tali yang cukup kuat untuk memutar sebuah gunung. Tali itu seekor ular. Inilah kisahnya.”
Jauh sebelum raja itu lahir, ada dua saudari yang dinikahi resi yang sama.
Kadru dan Winata, dua putri seorang leluhur dewa, menjadi istri Resi Kasyapa. Mereka tinggal di satu halaman, makan dari satu dapur, dan melayani satu suami. Pada suatu hari Kasyapa memanggil keduanya dan menawarkan anugerah, apa pun yang mereka minta.
Kadru menjawab lebih dulu. Ia meminta seribu putra, ular-ular yang sama gemilangnya.
Winata mendengar permintaan saudarinya sampai habis. Lalu ia meminta dua putra saja. “Dua putra yang melebihi seribu putra Kadru,” katanya, “dalam kekuatan, dalam besar tubuh, dalam keberanian.”
“Jadilah,” kata Kasyapa kepada keduanya. “Jagalah kandungan kalian baik-baik.” Lalu ia pergi ke hutan untuk bertapa, dan tidak kembali untuk waktu yang sangat lama.
Kadru bertelur seribu butir. Winata bertelur dua. Para pelayan menaruh telur-telur itu di dalam tempayan-tempayan hangat, terpisah, dan menjaga panasnya siang dan malam. Seribu tempayan berderet di sisi halaman Kadru. Dua tempayan di sisi Winata.
Lima ratus tahun mereka menunggu.
Lalu tempayan-tempayan Kadru mulai bergetar. Satu demi satu kulit telurnya retak, dan dari setiap retakan keluar seekor ular kecil yang basah dan berkilat. Kadru berlutut di antara mereka dan menghitung sampai seribu. Yang pertama menetas bernama Sesa. Yang kedua bernama Wasuki. Ular kecil itu langsung melilit pergelangan tangan ibunya dan tidak mau dilepas.
Dua tempayan Winata diam.
Winata duduk di depan dua telurnya setiap hari. Ia menempelkan telinga ke kulit tempayan dan tidak mendengar apa-apa. Di seberang halaman, seribu anak saudarinya merayap di kaki Kadru dan tidur bergelung di pangkuannya. Pada suatu pagi Winata mengangkat satu telurnya dan memecahkannya.
Di dalamnya ada seorang anak. Tubuh bagian atasnya sudah sempurna, bahu dan wajahnya bersinar. Tubuh bagian bawahnya belum jadi.
Anak itu membuka mata dan memandang ibunya.
“Kau memecahkan telurku sebelum waktunya,” katanya. “Karena itu kau akan menjadi budak, budak perempuan yang ingin kau saingi. Jangan pecahkan telur yang satu lagi. Tunggulah lima ratus tahun lagi dengan sabar, dan anak di dalamnya akan membebaskanmu. Kalau kau ingin ia kuat, jagalah telur itu.”
Sesudah berkata begitu, ia naik ke langit dengan tubuhnya yang setengah jadi. Namanya Aruna. Sejak hari itu ia menjadi kusir matahari, cahaya merah yang terlihat sesaat di ufuk timur setiap pagi, sebelum matahari sendiri muncul.
Winata menutup tempayan yang tersisa dengan kedua tangan, dan tidak membukanya lagi.
Wasuki tumbuh menjadi ular yang paling kuat di antara saudara-saudaranya. Saudara-saudaranya mengangkatnya menjadi raja, dan para dewa menyebutnya sahabat. Karena itulah, ketika para dewa membutuhkan seutas tali yang cukup panjang dan cukup kuat untuk memutar sebuah gunung, mereka datang kepadanya.
Para dewa sudah lama menginginkan amerta, air keabadian. Mereka bertapa dan bersumpah demi air itu, dan air itu tidak pernah datang. Akhirnya Wisnu berkata di hadapan mereka semua bahwa amerta tersimpan di samudra. Samudra harus diaduk, oleh para dewa bersama para asura, musuh mereka, karena tak satu pihak pun sanggup melakukannya sendirian.
Tongkat pengaduknya adalah Gunung Mandara. Puncaknya menembus awan, dan akarnya tertanam sedalam tingginya. Para dewa mencoba mencabutnya, dan gunung itu tidak bergeser sejari pun. Maka Sesa, kakak Wasuki, yang disuruh. Sesa melilit kaki gunung itu dan mencabutnya dari bumi, lengkap dengan hutan-hutannya, singa-singanya, dan burung-burung di dahannya.
Gunung itu dibawa ke tepi samudra. Samudra mengizinkan airnya diaduk asal ia mendapat bagian. Raja Kura-Kura bersedia menjadi alasnya. Indra meletakkan Mandara di atas punggung kura-kura itu, di tengah air.
Lalu Wasuki dililitkan ke tubuh gunung.
Ia merasakan batu yang kasar menekan sisiknya dari ujung kepala sampai ujung ekor. Akar-akar pohon menusuk perutnya. Di satu sisi samudra, para asura memegang kepalanya, dan kuku-kuku mereka menancap di sela sisik lehernya. Di sisi lain, para dewa memegang ekornya. Sesa berdiri di pihak para dewa, dan tubuhnya cukup panjang untuk menjangkau seberang. Sesekali ia menjulur melintasi gunung, mengangkat kepala adiknya tinggi-tinggi dari tangan para asura, lalu menjatuhkannya lagi, supaya putaran gunung itu tidak berhenti.
Mereka mulai menarik.
Gunung itu berputar ke kanan. Tubuh Wasuki terseret ke arah para dewa, kulitnya bergesek dengan batu. Gunung berputar ke kiri. Tubuhnya terseret ke arah para asura. Ke kanan lagi. Ke kiri lagi. Setiap putaran mengupas sedikit lagi sisiknya.
Dari mulut Wasuki keluar asap hitam dan api. Ia tidak bisa menahannya. Asap itu naik, berkumpul menjadi awan, dan dari awan itu turun hujan yang menyiram para dewa yang kepanasan di ekornya. Bunga-bunga berguguran dari pohon-pohon di lereng Mandara dan jatuh di bahu mereka.
Para asura di dekat kepalanya tidak mendapat hujan. Mereka mendapat asap. Mereka terbatuk, mengumpat, dan menarik lebih keras.
Ketika kepalanya terangkat tinggi oleh Sesa, Wasuki bisa melihat wajah kakaknya dari dekat. Wajah itu tenang, dan mulutnya tertutup rapat. Lalu kepalanya dijatuhkan lagi, dan ia hanya melihat air yang berputar.
Dari dasar samudra terdengar gemuruh. Makhluk-makhluk laut remuk di bawah gunung yang berputar. Pohon-pohon besar tercabut dari lereng dan jatuh ke air bersama burung-burungnya, dan dahan-dahan yang bergesekan memercikkan api. Api itu menjalar ke seluruh gunung. Wasuki merasakan panasnya merambat dari batu ke tubuhnya, dan mendengar gajah dan singa menjerit di lereng di atas kepalanya, sampai Indra memadamkannya dengan hujan lebat.
Getah dari pohon-pohon yang hancur dan sari dari tanaman obat mengalir ke air. Pelan-pelan samudra yang putih susu menjadi kental, berubah menjadi mentega cair. Baunya naik sampai ke tepi pantai.
Amerta belum juga muncul.
Para dewa melepaskan ekor Wasuki dan duduk di pasir dengan napas terengah. Para asura melepaskan kepalanya. Wasuki tergantung longgar di tubuh gunung, dan untuk sesaat tidak ada yang menariknya ke mana pun. Ia mendengar para dewa menghadap Brahma, Sang Kakek, pencipta segala makhluk, yang duduk di tepi pantai. “Kami sudah habis,” kata mereka. “Tidak ada lagi tenaga di tangan kami.”
Suara Brahma dalam dan tenang, dan Wasuki mendengarnya dengan jelas dari tempatnya terlilit. “Wisnu,” kata Brahma, “berilah mereka tenaga.”
Wisnu mengangkat tangannya. “Pasang lagi gunung itu,” katanya kepada para dewa. “Aduklah sekali lagi.”
Mereka mengencangkan lilitan Wasuki di gunung itu, dan menarik lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Kali ini sesuatu naik dari samudra yang sudah menjadi mentega.
Yang pertama bulan, dengan cahayanya yang lembut. Kuda putih yang larinya secepat pikiran naik dari buih dan berlari ke pantai. Seekor gajah putih bergading empat menyusul, dan Indra langsung mengambilnya.
Lalu seorang dewa yang tubuhnya bercahaya, membawa bejana putih di tangannya. Di dalam bejana itu ada amerta.
“Itu milik kami!” teriak para asura, dan tangan-tangan di leher Wasuki mengendur.
Gunung masih berputar, karena tidak ada yang memberi aba-aba berhenti. Dari samudra muncul yang terakhir, racun yang menyebar ke seluruh bumi dan menyala dengan asap. Baunya membuat tiga dunia pingsan. Wasuki menahan napas dan menyurukkan kepala ke batu. Siwa menelan racun itu atas permintaan Brahma, dan menahannya di tenggorokannya. Lehernya membiru.
Para asura melihat bejana di tangan dewa itu dan bersiap merebutnya dengan senjata. Saat itulah Wisnu mengambil rupa seorang perempuan yang memikat, berjalan di antara para asura, dan tersenyum kepada mereka. Mereka lupa pada senjata mereka. Mereka menyerahkan bejana amerta kepada perempuan itu, dan perempuan itu membawanya pergi.
Para dewa meminum amerta dari tangan Wisnu. Dari tempatnya terlilit di gunung, Wasuki bisa melihat mereka duduk berderet dan menengadah, satu demi satu, menunggu giliran.
Seorang asura yang menyamar sebagai dewa ikut duduk di barisan itu. Amerta baru sampai di tenggorokannya ketika Matahari dan Bulan mengenalinya. Cakram Wisnu memenggal kepalanya sebelum air itu turun lebih jauh, dan kepala yang sudah tersentuh amerta itu terbang ke langit sambil meraung.
Wisnu menanggalkan rupa perempuannya. Di tepi laut yang asin, perang pecah.
Wasuki masih terlilit di gunung ketika pasir di bawahnya berubah merah. Ia mendengar tombak berdesing di atas kepalanya dan tubuh-tubuh berjatuhan di dekat ekornya. Para asura yang tadi mencengkeram lehernya sekarang berlari melewatinya dengan senjata terhunus, dan sebagian roboh tidak jauh darinya, terkena cakram Wisnu yang berputar di atas medan. Ketika para asura melempar gunung-gunung dari langit, batu-batu yang hancur di udara menghujani tubuhnya. Ia menyurukkan kepala ke celah batu Mandara dan menunggu.
Sampai matahari terbit, perang itu belum selesai. Akhirnya para asura lari. Sebagian masuk ke dalam bumi, sebagian terjun ke laut.
Para dewa bersorak. Mereka mengembalikan Gunung Mandara ke tempatnya dan menyerahkan bejana amerta kepada Wisnu untuk dijaga. Lalu mereka pulang ke surga.
Wasuki dilepas dari gunung itu paling akhir.
Sisiknya terkelupas di sepanjang tubuh, di tempat batu menggesek. Mulutnya masih berasap. Tidak ada yang menawarinya seteguk pun dari bejana itu, dan ia tidak memintanya. Ketika ia mencari kakaknya di antara kerumunan, Sesa sudah pulang lebih dulu.
Ia berenang pulang menyeberangi samudra yang airnya masih kental dan berbau getah. Garam masuk ke setiap luka di tubuhnya. Di pantai seberang ia merayap naik ke pasir dan berbaring lama, tidak bergerak, sampai napasnya tidak lagi berasap.
Ketika ia mengangkat kepala, ibunya dan bibinya sedang berdiri tidak jauh darinya di tepi air. Mereka tidak melihatnya. Mereka memandang ke seberang samudra, ke pantai yang baru saja ia tinggalkan.
Di sana, kecil di kejauhan, kuda putih yang lahir dari pengadukan itu berjalan sendirian di sepanjang garis air. Bulunya seputih buih, dan ia bergerak ke arah mereka.
Kadru menyentuh lengan saudarinya. “Winata,” katanya, “lihat kuda itu. Cepat katakan, apa warnanya?”