Sexy Woman — Bab 1
Bab 1
Kaleng susu di mejaku bergetar.
Ponselku menempel di sampingnya. Layarnya tidak pernah gelap sejak subuh. Setiap notifikasi membuat kaleng itu berdenting kecil. Ting. Ting. Ting.
Uang receh di dalamnya ikut bergoyang. Lima ribu. Sepuluh ribu. Seluruh tabunganku berdenting mengikuti hinaan orang asing.
Aku belum tidur. Gaun pinjaman sudah kulepas. Kulipat. Kuletakkan di kursi. Riasan sudah kuhapus dengan sabun batangan. Pipiku masih merah karena kugosok terlalu keras.
Pesan terakhir di layar masih terbuka. Pelajaran kedua. Aku tidak berani menutupnya. Seolah kalau kututup, pesan berikutnya datang.
Di luar jendela, gang Wisma Derrida tidak sepi.
Kuintip dari celah gorden yang warnanya sudah pudar.
Motor-motor diparkir sembarangan. Lelaki-lelaki dengan kamera besar bersandar di tembok. Ada yang merokok. Ada yang makan gorengan. Mereka menunggu sambil tertawa.
Seorang ibu tetangga lewat membawa ember cucian. Seorang wartawan menyodorkan mikrofon ke wajahnya.
“Bu, kenal gadis di kamar atas?”
“Yang mana?”
“Yang di foto sama Pak Hugo.”
Ibu itu melirik ke jendelaku. Gorden kutarik. Terlambat.
“Oh, dia.” Suaranya sampai ke atas. “Kelihatannya pendiam. Ternyata.”
Tawa pecah di gang.
“Ternyata apa, Bu?”
“Ya, ternyata. Masa saya harus bilang.”
Duduk di lantai. Punggung menempel ke dinding. Lutut kupeluk.
Dari bawah, bau gorengan Vera naik lewat jendela. Perutku berbunyi. Kutekan dengan lutut.
Pukul tujuh, seseorang mengetuk pintuku. Aku tidak bergerak. Ketukan berhenti. Lalu suara langkah turun tangga. Lalu suara Vera.
“Minggir. Ini tangga rumah orang, bukan studio.”
Merangkak ke jendela lagi. Mengintip.
Vera berdiri di kaki tangga kayu. Celemek masih terpasang. Tangan di pinggang. Warungnya tutup. Papan BUKA dibalik menjadi TUTUP. Aku belum pernah sekali pun melihat warung itu tutup sepagi ini.
Seorang fotografer mencoba lewat di sampingnya. Vera menggeser badan. Menghalangi.
“Bu, kami cuma mau satu foto.”
“Satu foto kalian kemarin sudah cukup.”
“Ibu siapanya?”
Vera tidak menjawab. Dia menarik kursi plastik dari warung. Meletakkannya tepat di kaki tangga. Lalu duduk di sana. Tangan terlipat. Wajah datar.
Seperti satpam yang tidak dibayar.
Kepalan tangan kutekan ke mulut. Keras.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini bunyinya berbeda. Nada khusus. Nada yang kupasang untuk satu nama saja.
Merangkak ke meja. Lututku menggesek lantai semen. Menyambar ponsel. Jari-jariku gemetar membuka layar.
Eris.
Dia akan menjelaskan. Dia akan bilang apa yang harus kulakukan. Dia akan bilang foto itu jebakan dan kami akan melawannya bersama.
Pesannya pendek. Empat kata.
Jangan datang ke kantor.