The Tambora Code — Bab 1
Bab 1
AHLI BAHASA KUNO DITEMUKAN TEWAS DI RUANG KERJANYA.
Judul berita itu muncul di layar ponsel pada Jumat pagi, ketika Seloso sedang mengikat dasi di depan cermin kamarnya, dan tangannya berhenti di tengah simpul.
Di bawah judul itu ada nama korban, Wiryo, dan Seloso membacanya dua kali. Jenazahnya ditemukan petugas keamanan kampus di Bandung menjelang subuh, polisi belum tahu penyebab kematiannya, dan menurut sumber di fakultas, seluruh berkas penelitian korban hilang.
Kaki Seloso lemas, dan ia terduduk di tepi tempat tidur.
Ia dan Wiryo berkenalan empat puluh tahun lalu, di semester pertama kuliah, dua mahasiswa kurus yang sama-sama miskin dan sama-sama tergila-gila pada asal-usul kata. Mereka pernah bertengkar semalam suntuk soal satu huruf dalam bahasa Jawa Kuno, lalu makan sebungkus nasi berdua karena uang mereka hanya cukup untuk satu. Setiap kali bertengkar, Wiryo selalu menutupnya dengan kalimat yang sama sambil tertawa, “Kau terlalu percaya pada kertas, Seloso. Kertas tidak bisa protes kalau kau salah membacanya.”
Seloso membuka aplikasi pesan dan menggulir jauh ke bawah, melewati grup jurusan, undangan seminar, dan pengumuman rapat, sampai menemukan nama kawannya. Pesan terakhir dari Wiryo datang tiga minggu lalu.
Artikelmu soal bahasa Tambora kubaca lagi. Ada yang ingin kutanyakan langsung. Kapan kita ngopi?
Di bawahnya ada balasan Seloso. Siap. Nanti kukabari.
Ia tidak pernah mengabari. Ada seminar, ada rapat, ada tumpukan skripsi, dan ada alasan-alasan lain yang pagi ini sama sekali tidak berarti. Wiryo memang tidak suka membicarakan hal penting lewat layar, kebiasaan yang selalu Seloso anggap kuno, dan sekarang ia tidak akan pernah tahu apa yang ingin ditanyakan kawannya.
Ia menekan nama Wiryo, padahal ia tahu tidak akan ada yang mengangkat.
Tidak ada nada sambung. Telepon itu langsung masuk ke kotak suara, dan terdengar suara Wiryo dari rekaman lama yang serak, dengan tawa kecil di ujungnya yang dulu selalu membuat Seloso jengkel.
Saya sedang tidak bisa menjawab. Tinggalkan pesan. Kalau penting, tulis di kertas.
Bunyi panjang menyusul. Seloso membuka mulut, ingin minta maaf, ingin bertanya, ingin memanggil nama kawannya sekali lagi, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Ia memutus sambungan dan duduk lama dengan ponsel di pangkuan, sementara kopi yang tadi ia seduh sudah dingin di meja samping tempat tidur.
Ponsel itu bergetar lagi, dari nomor tak dikenal, dan Seloso hampir menolaknya.
“Prof. Seloso?” Suara laki-laki muda, napasnya pendek. “Maaf pagi-pagi, Prof. Saya Raka, asisten Pak Wiryo. Kita pernah ketemu di seminar di Bandung. Mungkin Bapak sudah lupa.”
“Saya sudah membaca beritanya, Raka.”
“Saya yang pertama datang setelah satpam.” Dari ujung telepon terdengar mesin mobil dan orang memanggil-manggil. “Polisi minta saya melihat dari pintu, siapa tahu ada yang hilang. Prof, hampir semuanya hilang! Laci kosong. Lemari arsip kosong. Hard disk cadangan yang biasa beliau bawa ke mana-mana juga tidak ada.”
“Komputernya?”
“Itu yang mau saya sampaikan.” Suara Raka turun, hampir berbisik. “Komputernya tidak dibawa, dan masih menyala waktu saya masuk. Ada darah di papan ketik, Prof. Di meja. Sedikit di layar.” Raka diam sebentar. “Yang terbuka di layar itu artikel Bapak, Prof.”
Seloso tidak langsung mengerti. “Artikel saya?”
“Yang tentang empat puluh delapan kata. Bahasa Tambora.” Raka menelan ludah. “Halaman terakhir, Prof. Ada satu kalimat yang diblok biru, kayak ada yang sengaja menandainya.”
Seloso tidak perlu bertanya kalimat yang mana. Di halaman terakhir artikel itu hanya ada satu kalimat yang dulu membuat Wiryo menelepon tengah malam untuk menertawakannya, dan Seloso hafal kalimat itu karena ia sendiri yang menulisnya.
Kadang saya bertanya apakah daftar ini sekadar daftar, atau sebuah pesan yang kebetulan berbentuk daftar.
Di luar jendela, tetangga menyalakan motor dan membiarkan mesinnya meraung terlalu lama. Seloso membayangkan Wiryo duduk di depan layar itu, membaca tulisannya, lalu membayangkan apa yang dilihat kawannya pada detik terakhir, dan memaksa dirinya berhenti.
“Kalau begitu, Wiryo sedang membaca artikel saya waktu…” Seloso tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. “Atau orang lain yang membuka artikel itu di layarnya.”
“Maksud Bapak?”
“Saya tidak tahu,” jawab Seloso, dan itu jujur. “Polisi bilang apa?”
“Perampokan.” Raka tertawa pendek, tanpa gembira sedikit pun. “Tapi perampok macam apa, Prof, yang membawa kertas dan meninggalkan komputer?”
“Perampok yang sudah menyalin isi komputernya,” kata Seloso.
Begitu kalimat itu keluar, ia menyesal, karena di ujung sana Raka langsung terdiam. Sejak muda Seloso punya kebiasaan buruk yang tidak pernah sembuh, yaitu membiarkan pikirannya keluar lewat mulut sebelum sempat ia timbang. Di ruang kuliah mahasiswa menyukainya karena itu, tetapi di tempat lain jarang ada yang suka.
“Polisi mungkin menghubungi Bapak,” kata Raka akhirnya. “Nama Bapak ada di layar.”
“Tentu.”
“Prof, boleh saya tanya? Artikel itu sebenarnya isinya apa?”
“Daftar kata dan pertanyaan,” kata Seloso. “Itu masalahnya, Raka. Saya tidak pernah menemukan jawabannya.”
Setelah telepon ditutup, rumah itu terasa terlalu sepi, dan Seloso lama duduk diam di tepi tempat tidur.
Ia harus ke Bandung, ke pemakaman, ke keluarga Wiryo. Ia mencoba mengingat-ingat jadwal kereta ke Bandung dan tidak bisa, padahal biasanya angka gampang baginya. Nanti ia akan menelepon Raka lagi, kalau ia sudah bisa bicara tanpa suaranya bergetar. Untuk saat ini ia hanya sanggup menjalani jadwal hari itu, yaitu berangkat ke kampusnya di Yogyakarta, mengajar pukul sepuluh, lalu bimbingan skripsi dengan Pon pukul empat sore.
Ia membuka laptop. Artikel itu ada di situs kampus, bisa dibaca dan diunduh siapa saja dengan gratis, karena dulu Seloso sendiri yang memperjuangkan di rapat senat supaya semua tulisan dosen terbuka untuk umum. Di blog pribadinya, ia bahkan mengunggah catatan kerja berupa tabel yang belum selesai dan dugaan yang belum diuji, supaya orang lain bisa melanjutkan kalau ia gagal.
Di sudut halaman artikel itu ada angka kecil yang tidak pernah ia perhatikan, yaitu jumlah unduhan. Bertahun-tahun angka itu nyaris tidak bergerak, paling satu atau dua unduhan tiap bulan.
Dalam sebulan terakhir, angka itu bertambah empat ratus. Kemarin, kalau melihat angka itu, ia pasti senang. Ia akan pamer di ruang dosen, dan mungkin akan mengirim tangkapan layarnya kepada Wiryo dengan tiga tanda seru.
Seloso menutup laptop.
Apakah tulisanku ikut membunuhnya?
Ia mencoba menjawab pertanyaan itu dengan cara yang paling ia kuasai, yaitu memecahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bisa diuji. Sebuah artikel tidak bisa membunuh, dan sebuah daftar kata tidak bisa melukai siapa pun. Tetapi semua berkas di ruangan Wiryo hilang, sedangkan yang ditinggalkan hanya artikel Seloso, terbuka di layar, di samping tubuh kawannya. Sekeras apa pun ia mencoba, jawaban yang menenangkan tidak mau datang.
Ia berdiri, menyelesaikan simpul dasinya dengan tangan yang masih gemetar, lalu mengenakan jas hitamnya. Seloso satu-satunya dosen di fakultas yang selalu berjas, dan selama tiga puluh tahun ia hanya punya tiga setelan dengan model yang sama, sampai para mahasiswa menjuluki setelan itu “seragam duka”. Biasanya Seloso tertawa mendengarnya, tetapi pagi ini tidak.
Tas kerjanya bersandar di kaki meja, kulitnya retak di sudut-sudut. Seloso membukanya dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat empat.
Fotokopi itu sudah lusuh walau selalu disimpan dalam sampul plastik, lipatannya hampir putus dan tepinya kecokelatan. Mereka membuatnya berdua waktu masih mahasiswa, di kios fotokopi perpustakaan yang mesinnya harus dipukul sisi kirinya supaya mau menyala, karena buku aslinya tidak boleh dibawa keluar. Seloso memegangi halamannya supaya rata di kaca. Wiryo membayar dengan uang makan siangnya. Begitu kertas yang masih hangat itu keluar, Wiryo membacanya lebih dulu, lalu menyerahkannya kepada Seloso.
“Bahasa ini cocok untukmu,” kata Wiryo waktu itu. “Dia bisu, kau cerewet. Pasangan yang pas.”
Sejak hari itu, kertas ini tidak pernah jauh dari tas Seloso. Fotokopi itu halaman dari buku tua karya Raffles, orang Inggris yang pernah memerintah Jawa, berisi daftar kata beberapa bahasa di timur Jawa. Satu kolom di antaranya bertahun-tahun membuat Seloso lupa makan siang.
TEMBÓRA.
Begitulah Raffles mengejanya, sedangkan orang sekarang menyebutnya Tambora, dan di bawahnya berderet empat puluh delapan baris, empat puluh delapan kata dari bahasa yang tidak lagi dituturkan siapa pun di muka bumi.
Seena, satu. Kálae, dua. Nih, tiga.
Seloso hafal setiap kata dan setiap tanda di kolom itu. Ia sudah menyusunnya menurut abjad, menurut bunyi, dan menurut arti, sudah menulis artikel tentangnya, mengajarkannya, dan memperdebatkannya dengan Wiryo di warung kopi sampai warung itu tutup.
Ia tahu arti setiap kata. Tetapi kalau daftar itu memang menyimpan pesan, ia belum pernah bisa membacanya.
Seseorang, rupanya, mengira ia sudah bisa.