Tidak Ada yang Lain — Stasiun Berikutnya: Kemarin
Bab 1: Stasiun Berikutnya: Kemarin
Dalam mimpi itu, papan tujuan kereta tak pernah menunjukkan nama tempat. Huruf-hurufnya berganti terlalu cepat, seolah seseorang belum memutuskan ke mana Mira seharusnya pergi. Ia berdiri di depan pintu yang tak mau terbuka. Dari pengeras suara, seorang perempuan mengumumkan dengan nada sopan, “Stasiun berikutnya, kemarin.”
Penumpang lain menerimanya sebagai informasi biasa. Seorang anak menutup buku. Seseorang membetulkan letak syal. Mira hendak bertanya apakah kereta ini akan berhenti, tetapi alarm berbunyi lebih dulu.
Pukul 06.43.
Ia tahu angka itu sebelum melihat ponsel. Tiga menit lagi pipa kamar mandi di lantai atas akan berdeham. Sesudah itu pintu apartemen Niko dibuka, ditutup, lalu dibuka lagi karena ia selalu lupa sesuatu. Pukul 07.02 Mira akan memeriksa kompor, padahal ia tidak menyalakannya pagi itu. Ia pernah sengaja tidak memeriksa. Sepanjang perjalanan ke kantor ia memikirkan kompor yang tidak menyala.
Pipa berdeham tepat waktu.
“Selamat pagi,” kata Mira kepada langit-langit.
Tiga bulan lalu ia pernah mengganti bunyi alarm dengan suara burung. Malam itu ia bermimpi sekumpulan burung berdebat tentang jadwal kereta, dan paginya ia terlambat. Bunyi lama ia pasang lagi sebelum tidur. Waktu ia menceritakannya, Niko berkata tubuh Mira jelas sudah menandatangani kontrak dengan alarm yang lama. Sejak itu, setiap pagi Mira mematuhi kontrak yang tidak pernah ia baca.
Di lorong lantai tiga, Niko sedang mengunci pintu sambil menjepit amplop besar di bawah dagu. Mantelnya sama dengan kemarin. Syalnya belum pernah dilepas sejak November. Melihat Mira, ia mengangkat tangan, dan amplop itu jatuh.
“Jangan bilang,” kata Mira.
“Aku belum bilang apa-apa.”
“Payungmu ada di dalam.”
Niko melihat hujan di jendela tangga, lalu pintunya, lalu amplop di lantai. “Hari ini mungkin berhenti.”
“Kau bilang begitu kemarin.”
“Dan hujannya memang berhenti.”
“Sesudah kita sampai rumah.”
Ia tersenyum, memungut amplop, membuka lagi pintunya. Mira turun tanpa menunggu. Niko akan menyusul di belokan tangga kedua. Delapan tahun cukup untuk menghafal berapa lama seseorang mencari payung.
Toko roti Solène ada di sudut jalan, dua puluh langkah dari pintu gedung. Begitu mereka masuk, Solène menaruh dua kantong kertas di meja kasir. Seorang pelanggan di belakang Mira menghela napas.
“Yang panjang untukmu,” kata Solène kepada Niko. “Yang kecil untukmu. Kau belum tidur lagi, Mira?”
“Aku tidur.”
“Itu bukan yang kutanyakan.”
Solène hampir tujuh puluh, tetapi menolak angka yang diberikan orang untuknya. Di dinding dekat pintu ia memajang foto dirinya waktu muda, berdiri di depan toko yang sama bersama seorang laki-laki. Pelanggan suka bertanya siapa laki-laki itu. Jawaban Solène berganti tiap minggu. Kadang suami pertama, kadang penjahat perang, kadang tukang yang terlambat mengembalikan kunci.
Mira membayar dan menerima roti yang memang ia inginkan. Tak seorang pun memaksanya. Ia datang setiap pagi dan memilihnya lagi.
Di trotoar Niko membuka payung yang rusuk kirinya bengkok. Bahu Mira tetap basah. Niko memiringkan payung ke arahnya, dan bahunya sendiri yang basah.
“Kita bisa beli payung baru,” kata Mira.
“Ini masih bisa dipakai.”
“Juga sebagai saringan.”
“Mira, setiap benda punya lebih dari satu kegunaan.”
“Sekarang aku mengerti kenapa kau betah di percetakan.”
“Karena aku menghargai kertas?”
“Karena kau pikir semua kesalahan bisa dicetak ulang.”
Ia menoleh. Senyumnya hilang, dan Mira menyesal sedetik sebelum melihatnya. Biasanya mereka saling melempar kalimat tanpa berpikir dua kali. Pagi ini setiap kata Mira keluar dengan ujung yang tajam.
Di tangga Métro Parmentier, Niko berkata, “Sampai nanti,” seolah mereka sudah membuat janji. Mereka memang hampir selalu pulang bersama. Mira mengangguk dan turun.
Hotel tempatnya bekerja ada di jalan kecil dekat Bourse, enam stasiun dari rumah. Di meja resepsionis menunggu daftar kedatangan, pembatalan, perubahan tanggal, dan permintaan tamu yang ingin kamar tenang di tengah kota. Camille, rekan di sebelahnya, pernah berkata Mira bisa membenci sebuah masalah sebelum masalah itu terjadi. Di layar, nama-nama datang dan pergi. Nama Mira tidak pernah muncul di daftar keberangkatan.
Menjelang siang sepasang tamu datang terlalu awal. Lelakinya menenteng dua koper dan kantong belanja dari bandara. Perempuannya bicara dengan bersemangat tentang jendela yang menghadap atap-atap Paris.
“Kami ke sini untuk memulai hidup baru,” katanya kepada Mira.
“Kamar Anda siap setengah jam lagi. Saya bisa menyimpan koper lebih dulu.”
“Bagus sekali. Di sini semua hal terasa mungkin.”
Ia mencium pipi suaminya. Suaminya sedang meraba saku mencari pengisi daya.
Sesudah menyimpan koper mereka, Mira masuk ke toilet pegawai dan tertawa kecil di depan cermin. Di sini semua hal terasa mungkin. Lalu matanya basah. Pagi tadi ada surel dari pemilik apartemen, tiga baris. Kontrak sewanya diperpanjang otomatis, tahun kesembilan, harga sama, pintu yang sama. Sejam kemudian ibunya mengirim foto hasil USG. Adik bungsunya, dua puluh enam, dengan tiga tanda seru. Di bawahnya ibunya menulis, Giliranmu kapan, Sayang? Bercanda. Tidak ada yang meninggalkannya. Tidak ada yang berubah. Sebentar lagi ia harus kembali ke meja dan menjawab pertanyaan tentang jam sarapan.
Camille mengetuk pintu. “Kau di dalam?”
“Ya. Sebentar lagi keluar.”
“Tidak usah buru-buru. Tamu kamar dua belas sedang mencari setrika. Aku bisa menghadapi tragedi itu sendirian.”
Mira mengeringkan wajah dengan tisu yang terlalu tipis dan keluar sesudah langkah Camille menjauh. Ia melewati cermin tanpa menoleh.
Sore itu Camille menyusun bukti pembayaran sambil melirik daftar kamar. “Pasangan hidup baru itu akan mengeluh jendelanya terlalu kecil.”
“Mereka belum melihat kamarnya.”
“Itu tidak pernah menghalangi orang berharap pada jendela.”
Malamnya Mira sampai di gedung ketika lampu lorong menyala setengah. Dari balik pintu sebelah Niko batuk. Sembilan menit kemudian ponselnya berbunyi.
Niko mengirim foto undangan pernikahan. Di antara dua nama yang dicetak dengan huruf indah, nama mempelai perempuan tertukar dengan nama ibunya. Mira membayangkan keluarga itu membuka seratus amplop dan harus menjelaskan mengapa seorang laki-laki tampak menikahi calon ibu mertuanya.
Ini prototipe, tulis Niko. Jangan lapor polisi dulu.
Mira tertawa cukup keras sampai dinding tipis apartemennya ikut menjadi saksi. Cetak satu untuk disimpan. Kisah cinta paling stabil tahun ini.
Niko membalas dengan gambar payung bocor.
Sebelum tidur, Mira merobek selembar kertas dari blok catatan hotel dan menulis hal-hal yang bisa ia ubah tanpa meminta izin siapa pun. Rute ke kantor. Letak meja kecil di ruang tamu. Nama jaringan internet. Sarapan. Daftar itu cepat sekali terlihat seperti pekerjaan rumah orang yang bosan pada rumahnya. Ia meremasnya, lalu memungutnya lagi karena di baliknya ada nomor tukang ledeng.
Paginya alarm berbunyi pukul 06.43. Pipa berdeham. Pintu Niko dibuka, ditutup, dibuka.
Di toko, Solène menggeser kantong kertas ke arah Mira sebelum ia sampai di meja. Mira tidak mengambilnya.
“Aku mau yang lain.”
Solène melihat baki. “Yang lain apa?”
Mira ikut melihat baki. Bertahun-tahun ia masuk ke toko ini tanpa sungguh-sungguh melihat isinya. Ada roti bergula, roti berkeju, tiga macam kue yang namanya tidak ia hafal. Ia menunjuk yang paling jauh dari pesanannya.
Solène mengangkat sebelah alis. “Kau tidak suka kismis.”
“Mungkin mulai suka.”
“Kismisnya belum berubah.”
“Orang bisa berubah.”
Niko muncul di belakangnya. “Sebelum jam tujuh pagi? Beri kami peringatan.”
Mira tetap membeli roti kismis. Ia membawanya keluar dengan kemenangan kecil yang hancur pada gigitan pertama. Kismis itu hangat dan manis, buah yang salah disembunyikan di dalam roti yang baik.
Niko berjalan di sebelahnya tanpa komentar. Mira tahu ia sedang memperhatikan sisa roti yang masih utuh di tangannya. Setengah jalan ke stasiun, Mira berhenti.
“Katakan saja.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Justru itu. Biasanya kau sudah membuat tiga lelucon.”
“Aku sedang menghormati proses perubahanmu menjadi penyuka kismis.”
Mira ingin tertawa, tetapi marahnya lebih cepat.
“Aku ingin menikah.”
Niko hampir menabrak seorang laki-laki yang menuntun sepeda.