Bagaimana Kita Tahu Sesuatu Bergerak? — Bus yang mana?
Bab 1 — Bus yang mana?
Pagi itu Iota dan Wong Nam akan mengembalikan buku ke perpustakaan. Sebelum berangkat, Iota melihat satu sudut sampul buku itu terlepas.
“Kakek, sampulnya rusak.”
Wong Nam mengambil selotip. Ia menempelkan sudut yang lepas, pelan-pelan, supaya tidak ada tulisan yang tertutup. Lalu ia menyerahkan buku itu kepada Iota.
“Masih bisa dibaca?”
Iota membuka halaman pertama. “Bisa. Terima kasih, Kek.”
Ia memasukkan buku itu ke dalam tas, bersama buku catatan kecilnya dan sebatang pensil.
Di halte, dua bus berhenti berdampingan, dekat sekali, seperti dua kakak-adik yang berdiri bahu-membahu. Iota dan Wong Nam naik ke bus yang paling dekat dengan trotoar.
Iota duduk di dekat jendela. Dari jendelanya, ia hanya bisa melihat bus sebelah: badan bus yang hijau, besar, dan jendela-jendelanya yang penuh orang. Wong Nam duduk di sampingnya, di dekat lorong. Di seberang lorong ada jendela lain. Dari jendela itu kelihatan trotoar dan papan nama halte yang berdiri tegak.
Iota mengeluarkan buku catatannya. Ia menulis: Hari ini kami pergi ke perpustakaan.
Tiba-tiba jendela-jendela bus hijau itu mulai bergeser. Satu jendela lewat. Lalu jendela berikutnya. Iota memegang tepi kursi erat-erat.
“Kek! Kenapa bus kita mundur?” serunya.
Seorang ibu di kursi depan menoleh dan tersenyum.
“Lihat papan halte,” kata Wong Nam.
Iota menoleh ke jendela di seberang lorong. Papan halte itu masih di sana, tepat di samping bus mereka. Tidak maju. Tidak mundur. Sementara itu bus hijau terus berjalan ke depan sampai tidak terlihat lagi.
“Oh,” kata Iota pelan. “Bus kita diam. Bus sebelah yang maju.”
Pipinya terasa hangat. Tadi ia sempat menulis bus kami mundur di buku catatannya. Ia mengangkat pensil untuk mencoretnya kuat-kuat.
Wong Nam menahan tangannya dengan lembut.
“Biarkan dulu. Tulis juga apa yang membuatmu berubah pikiran.”
Iota diam sebentar. Lalu, di bawah kalimat yang salah itu, ia menulis: Jendela bus sebelah lewat. Tapi papan halte tidak pindah dari samping bus kami. Jadi bus kami masih diam.
“Sekarang orang lain bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kata Wong Nam.
Pintu bus mereka menutup. Bus mulai maju. Iota melihat ke jendela seberang lorong. Papan halte yang tadi di samping mereka kini tertinggal di belakang, makin jauh, makin kecil.
“Sekarang bus kita yang bergerak!”
“Bagaimana kau tahu?”
“Tadi kita di samping papan halte. Sekarang papannya sudah jauh di belakang.”
Wong Nam mengangguk. Iota menyandarkan punggungnya. Tapi ada satu pertanyaan yang belum mau pergi dari kepalanya.
“Kek,” katanya. “Kalau tidak ada papan halte, dan aku tidak bisa melihat ke luar sama sekali… bagaimana aku tahu bus kita bergerak?”
Wong Nam tersenyum. “Perjalanan kita masih panjang. Coba kau cari tahu.”