Boting Langi' — Anak yang di Tengah
La Galigo, Volume 01
Kisah ini dituturkan ulang dari Sureq Galigo menurut naskah NBG 188, yang dihimpun dan disunting Colliq Pujie Arung Pancana Toa bersama B. F. Matthes pada abad ke-19. Siklus La Galigo sendiri jauh lebih tua, dan aslinya berupa syair Bugis kuno yang dinyanyikan.
Ada tiga dunia dalam kisah ini. Di atas ada Boting Langi’, negeri para dewa. Di tengah ada Ale Lino, bumi, yang masih kosong. Di bawah ada Peretiwi, yang juga disebut Toddang Toja, negeri di bawah air. Penguasa Boting Langi’ adalah Patotoe dan istrinya, Datu Palinge’. Penguasa Peretiwi adalah Guru ri Selleng dan istrinya, Sinaung Toja, adik Datu Palinge’.
Bab 1 — Anak yang di Tengah
Naskah NBG 188, jilid 1, halaman 1–22
Pagi itu, ketika matahari baru menyentuh Boting Langi’, Patotoe keluar dari biliknya. Kelambunya emas, pintunya halilintar, dan bangku tempat ia duduk menyirih terbuat dari kilat. Orang menyebutnya juga To Palanroe, Sang Pencipta, atau La Patigana.
Dari jendela ia menjenguk ke pohon asam bintang, tempat ayam-ayam sabungannya dijaga. Biasanya di sana ramai. Pagi itu ia hanya melihat anak-anak kecil.
Ia turun ke gelanggang dengan cerana sirihnya. “Mana Rukkelleng Mpoba?” tanyanya pelan. “Mana Ruma Makompong, Sangiang Pajung, Balassa Riu’?”
Anak-anak itu bersujud. Sudah tiga hari tiga malam, kata mereka, keempat abdi itu tak terlihat di langit.
Mereka belum selesai berbicara ketika keempatnya muncul dari selatan.
Patotoe tidak lagi berbicara pelan. “Tiga hari tiga malam kalian pergi, dan ayam-ayamku kalian titipkan pada anak-anak! Bukankah sudah kukatakan, tak ada yang perlu kalian cari di luar Boting Langi’? Kain dan baju sudah kuberikan, dan kalian tetap lalai.”
Ruma Makompong dan Sangiang Pajung bersujud dengan formula para abdi: telapak tangan terbuka, leher setipis kulit bawang, semoga tak kualat menjawab Tuan. Mereka baru pulang dari kolong langit, dari permukaan Peretiwi, kata mereka. Di sana mereka menjalankan pekerjaan yang biasa mereka jalankan: menurunkan topan, mengadu petir dengan guntur, menyalakan api dewata, dan menyesatkan orang di hutan.
Lalu Rukkelleng Mpoba berkata apa yang mereka temukan. “Tetapi tak ada siapa pun di sana, Tuanku. Tak seorang pun menyeru ‘Tuan’ kepada Batara di langit atau menadahkan tangan ke Peretiwi. Turunkanlah seorang keturunan Tuanku untuk menjelma di bumi, supaya dunia tidak kosong. Sebab Tuanku bukan dewa, selama tak seorang pun di kolong langit menyembah Tuanku sebagai Batara.”
Patotoe tidak menjawab.
Tiga kali sembah itu diulang. Pada kali ketiga barulah ia berpaling. “Aku akan naik dan berbicara dengan ibu La Rumpang Megga,” katanya. “Tanpa izin Datu Palinge’, tak boleh ada keturunan kami yang ditempatkan di kolong langit.”
Istananya bernama Sao Kuta Pareppa’e, dan untuk sampai ke pelaminan ia harus melewati dua ratus lima puluh petak. Di sana para dayang menanggalkan kerisnya dan ikat kepalanya, lalu menyuguhkan sirih. Sambil menyirih ia mengutarakan maksudnya kepada istrinya: anak mereka diturunkan menjadi tunas di bumi, untuk memantangkan kayu sengkona atas nama mereka. “Kita bukan dewa, Adinda, kalau tak seorang pun di sana menyeru kita ‘Tuan’.”
“Kalau sudah begitu niatmu, Aji Patotoe,” jawab Datu Palinge’, “siapa yang berani membantah?”
Patotoe senang. Tetapi istrinya belum selesai. Saudara-saudara mereka harus diundang lebih dulu, katanya, para sepupu dan kemenakan dari Boting Langi’ dan dari Toddang Toja. Biar semua duduk bermusyawarah di istana ini. Kalau mereka setuju, barulah tunas ditanam di bumi.
Maka Patotoe mengutus para abdinya. Rukkelleng Mpoba dan Ruma Makompong turun ke Toddang Toja untuk mengundang Sinaung Toja dan suaminya. Sepupunya, To Bala Unynyi’, juga harus dipanggil. Seorang utusan lain pergi ke Senrijawa di barat, ke kemenakannya Senne’ Batara. Semua harus datang pada hari pasar di langit, delapan malam sesudah bulan terbit. “Siapa menolak datang ke istanaku,” kata Patotoe, “jangan ada makanan yang lewat di kerongkongannya.”
Palang pintu langit dicabut. Pelangi tujuh warna diturunkan, guntur dan kilat bersahut-sahutan, dan di atas pelangi itu para utusan meluncur. Dalam sekejap mereka sudah berdiri di depan Sao Selli’, istana Dunia Bawah yang gemerlap.
Guru ri Selleng dan Sinaung Toja sedang duduk berdua di pelaminan. Mereka sudah menebak sebelum para utusan sempat bicara. “Apa pesan saudaraku? Apakah Batara Guru sudah hendak dicarikan istri dari luar langit?”
Para utusan menyampaikan undangan itu. Penguasa Dunia Bawah diminta naik ke langit bersama semua raja taklukannya, karena Patotoe hendak menempatkan tunas di Ale Lino. “Kalau Patotoe menganggapnya baik,” kata pasangan itu, “siapa yang berani membantah?” Mereka menyuruh para utusan pulang lebih dulu. Mereka sendiri akan menyusul pada purnama, membawa seluruh raja Peretiwi.
Kabar itu manis di hati Patotoe dan Datu Palinge’.
Lalu para penyeru berkeliling negeri langit dan memanggil semua penduduknya. Tujuh malam lagi semua harus berkumpul di Rualette, dan jangan sampai didahului rombongan dari Toddang Toja. Orang-orang langit saling bertanya, pekerjaan besar apa lagi yang hendak dibuat To Palanroe.
Pada hari yang ditetapkan, mereka berdatangan. Sangka Malewa datang dari timur dengan tujuh ribu pengiring, Sinrang Mpatara dari selatan dengan tiga juta, dan Senne’ Batara dari barat. Payung-payung bintang mereka berpendar seperti bara yang diaduk. Semua berkumpul di gelanggang di bawah pohon asam.
Hanya rombongan dari Dunia Bawah yang belum tampak.
Di Toddang Toja, Guru ri Selleng mengenakan kain bersulam emas dan keris emas. Di setiap lengan Sinaung Toja melingkar enam puluh lima gelang. Mereka membakar dupa, dan badai, kilat, air pasang, serta ombak bangkit mengiringi keberangkatan mereka. Mereka naik menunggang kabut.
Jalan ke Rualette melewati banyak wilayah langit, dan di setiap wilayah itu ada seorang kemenakan yang sedang bekerja. Ada yang menyabung petir di perbukitan, ada yang mengolah gunung besi, ada yang menyabung ayam, ada yang menebar bintang di padang. Setiap kemenakan menyembah dan menawarkan hal yang sama: singgahlah makan, nanti kita berangkat bersama, karena kami pun dipanggil. Setiap kali penguasa Dunia Bawah menolak dengan jawaban yang sama: perjalanan masih jauh, dan hari yang ditetapkan sudah lewat.
Di pagar istana Patotoe, rombongan itu dihadang. Para penjaganya orang Sunra, Paddengngeng, Peresola, Pulakali, dan I La Sualang. Burung hantu dan burung cabak menjerit. Ular berbisa, lipan raksasa, dan setan bangkit. Mereka belum pernah melihat orang yang bukan penghuni langit.
Wajah Sinaung Toja menggelap. Ia maju, menunjuk Paddengngeng, dan meludah. “Lancang kalian! Aku satu darah dengan Patotoe. Yang satu bertakhta di Rualette, yang satu turun memerintah Peretiwi. Aku adik kandung Datu Palinge’.”
Para penjaga gemetar dan mundur berjongkok. Rupanya tuan mereka sendiri, kata mereka, dan mereka tidak tahu.
Seorang dayang, We Ati Langi’, melihat semua itu dari jendela kilat dan melapor ke dalam. Patotoe menyuruh para bangsawan Abang turun dengan talam emas penuh bertih emas untuk menjemput saudaranya.
“Mengapa orang Sunra memperlakukanku begitu?” kata Sinaung Toja dengan malas. “Dari tadi mestinya aku sudah beristirahat di balairung saudaraku.”
Para bangsawan Abang memarahi para penjaga dan mengancam akan menghukum mereka di bawah pohon asam. Lalu rombongan Dunia Bawah masuk, ditaburi bertih penyeru semangat. Di dalam, para sepupu dan kemenakan duduk berdesakan sampai ikat kepala mereka bersentuhan. Mangkuk-mangkuk kilat terangkat, dan tawa mereka memekakkan telinga.
“Naiklah, Sinaung Toja,” kata Patotoe. “Duduklah bersamaku di peterana guruh.” Datu Palinge’ memanggil Guru ri Selleng ke sisinya.
Di hadapan kerabat dari tiga dunia, Patotoe dan Datu Palinge’ mengutarakan maksud mereka. Mereka ingin menurunkan anak dewata ke permukaan bumi, supaya dunia tidak lagi kosong. Mereka bukan dewa, kata mereka, kalau tak seorang pun menghuni bumi dan menyembah ke langit. Tetapi mereka tidak mau melakukannya sebelum seluruh keluarga sepakat.
Saudara-saudara mereka tidak membantah. Hanya satu yang mereka tanyakan. “Kalau anakmu yang diturunkan, bagaimana dengan keturunan kami? Tidakkah nasib mereka kau pikirkan juga?”
“Berapa anakmu, Adinda?” tanya Patotoe kepada Sinaung Toja.
“Sembilan.” Penguasa Dunia Bawah menyebut mereka satu per satu, dimulai dari yang sulung, We Nyili’ Timo’, yang disiapkan menjadi raja di Toddang Toja, lalu adiknya Linrung Talaga, sampai si bungsu yang menaikkan air pasang dan memecahkan perahu.
Patotoe dan Datu Palinge’ juga punya sembilan anak. Yang sulung La Toge’ Langi’, yang disebut Batara Guru. Yang bungsu masih kanak-kanak, Aji Mangkau’, yang juga bernama Batara Unru’.
Lalu keduanya mulai menimbang, siapa di antara anak mereka yang akan diturunkan.
Yang pertama mereka sebut ternyata sudah punya tugas. Aji Palureng sudah diserahi Lete’ Riu’ untuk mengadu petir dan menyalakan api dewata. Aji Paweweng sudah memegang Langku-Langku. Aji Tellino sudah mengatur gunung besi di Mallagenni. Sangiang Kapang, yang cerdas, penyayang, dan tak pernah memperlihatkan marah, sudah mengatur bintang-bintang di Limpo Bonga. Bahkan I La Sangiang, yang suka berperang, merasa hanya dirinya anak dewata, dan setiap hari menghabiskan seratus kerbau panggang untuk para penyabung ayamnya, sudah diserahi Mallimongeng. Setiap kali satu nama disebut, yang lain menjawab: bagaimana ia bisa turun, sedangkan pusakanya sudah diserahkan?
“Kalau begitu Aji Mangkau’ saja,” kata Patotoe. “Si bungsu. Ia belum akan merindukan langit, dan belum terikat pada ibunya.”
Air mata Datu Palinge’ jatuh. “Apa yang kau pikirkan, Aji Patotoe? Ia masih kanak-kanak. Menimbang perkara ia belum bisa. Mengumpulkan pengikut belum bisa. Menyembah ke langit pun ia belum pandai. Kau mau ada yang memantangkan kayu sengkona atas nama kita, tetapi kau turunkan anak itu? Sehari pun belum tentu ia hidup di sana.”
“Kalau begitu La Rumpang Megga,” kata Patotoe. “Aji Palallo.”
Kali ini dua orang hakim langit yang angkat bicara, I La Tilangi’ dan Taletting Tana. Mereka menyembah dan mengingatkan sebuah pantangan yang sudah ditetapkan para hakim. Kalau yang diturunkan adalah anak yang di tengah, Batara akan runtuh terbelah dua.
Patotoe terdiam. Kira-kira selama orang menanak nasi ia duduk tanpa berkata, pikirannya ke sana kemari.
Akhirnya ia menoleh kepada istrinya. “Batara Guru, anak sulung kita, yang kita turunkan, Datu Palinge’. Dia yang selama ini kita siapkan menjadi raja di Boting Langi’.”
Para hakim setuju.
Lalu Patotoe bertanya kepada adiknya dari Dunia Bawah, anak mana yang akan dimunculkannya. “Anak sulungku, We Nyili’ Timo’,” jawab Sinaung Toja. “Ia akan dinikahkan dengan sepupunya.”
Para kerabat lain pun menyebut anak sulung mereka yang kelak akan menyusul ke dunia. Dari To Bala Unynyi’, putrinya We Pada Uleng, yang pemarah dan setiap hari merasa tersinggung. Dari Sangka Malewa, putranya La Urung Mpessi, yang tak mau dinasihati, gemar menyabung ayam, dan selalu menuntut menang meski ayamnya mati.
Patotoe menangis ketika menyuruh putranya bersiap. “Pergilah mandi, La Toge’ Langi’. Pakailah wewangian Senrijawa. Bersiaplah turun ke bumi.”