Syntories

Cinta Tapi Bosan — Sisa Pizza

Bab 1: Sisa Pizza

Aku dokter bedah. Hari ini aku menyelamatkan seorang pemuda sembilan belas tahun yang hampir mati kehabisan darah di meja operasiku.

Sampai di rumah, suamiku hanya bertanya apakah aku sudah makan.

Pemuda itu pengemudi ojek daring. Namanya Rizki. Motornya tergelincir di jalan layang Casablanca pukul dua siang, ketika aspal masih basah sisa hujan. Ia datang ke IGD dengan perut yang mengeras dan tekanan darah yang turun setiap kali perawat menuliskannya.

Di kantong jaketnya ada dua pesanan martabak yang tidak pernah sampai. Sebelum dibius, ia memegang lengan bajuku. “Dok, tolong bilangin pemesannya, martabaknya batal. Maaf ya. Nanti rating saya jelek.” Ia membuka kunci ponselnya dengan jempol yang gemetar dan menyerahkannya kepadaku. Kukirim pesan itu sebelum cuci tangan.

Pukul tiga kami masuk kamar operasi. Hanya ada aku, seorang dokter muda yang tangannya sedikit gemetar, dan Bu Ratmi, perawat yang sudah menyerahkan gunting kepada tiga generasi dokter bedah dan tidak pernah salah ambil.

Di dalam perut orang, darah tidak memberi tahu dari mana ia datang. Hampir satu jam kami mencari, sementara angka tensi di layar terus turun. Lalu jariku menemukannya, sebuah robekan di belakang hati, sebelum mataku sempat melihatnya.

“Kasa,” kataku.

Bu Ratmi sudah memegangnya.

Pukul tujuh lewat sepuluh, suara dokter anestesi berubah. “Tensinya naik, Dok Nadia.”

Bu Ratmi tidak bilang hebat atau syukurlah. Ia bilang, “Nah.”

Satu suku kata itu kubawa sepanjang koridor, ke ruang ganti, ke parkiran, sampai ke belakang setir.

Tol dalam kota padat. Lampu rem merah memanjang sampai Semanggi, dan radio memutar lagu yang dulu sering kunyanyikan bersama Damian, suamiku, di tahun pertama kami menikah, waktu aku masih bisa tertidur di kursi sebelahnya tanpa menghitung siapa yang lebih capek.

Di kemacetan itu aku berlatih bercerita.

Versi lengkapnya terlalu banyak istilah, dan mata Damian akan pindah ke laptop sebelum aku sampai ke bagian yang penting. Versi pendeknya terdengar seperti berita di kolom bawah portal daring, dan Damian akan bertanya apakah anaknya pakai helm.

Versi terakhir hanya satu kalimat. Hari ini aku menemukannya dengan tangan. Kucoba mengucapkannya keras-keras di lampu merah Kuningan. Pengemudi ojek di sebelah menoleh ke jendelaku. Kunaikkan volume radio.

Yang ingin kuceritakan sebenarnya hanya lima detik, ketika jariku menyentuh tepi robekan itu dan tubuhku tahu lebih dulu daripada otakku. Lima detik tidak bisa diceritakan di lampu merah.

Sampai di basement apartemen, aku masih duduk di mobil dengan mesin mati. Kubuka cermin di atas kemudi. Ada bekas masker di pangkal hidung, rambut lepek bekas penutup kepala. Kurapikan rambut dengan jari, lalu kutertawakan diriku sendiri karena berdandan untuk menceritakan sebuah hati yang robek.

Lantai dua puluh tiga. Pintu unit kami terbuka dengan bunyi kunci digital yang selalu terdengar seperti orang menelan ludah.

Damian duduk di meja makan, laptop terbuka, headset di satu telinga. Ia mengangkat telunjuk tanpa menoleh, tanda tunggu sebentar. Telunjuk itu sudah kukenal sejak kami menikah. Bulan ini ia kebagian giliran akhir pekan, jadi Sabtu malam pun tiket keluhan masih masuk.

“Coba ditutup dulu aplikasinya, Pak. Iya, semuanya. Terus buka lagi. Saya tunggu.”

Kuletakkan tas di kursi. Di layar laptop ada jendela tiket keluhan berwarna oranye dan foto profil seorang bapak berkacamata yang tampak marah bahkan dalam foto.

“Nah, udah bisa, kan? Sama-sama, Pak. Selamat malam.”

Ia melepas headset dan baru melihatku. Senyumnya lebar dan tulus. Damian selalu senang melihatku pulang. Itu tidak pernah berubah.

Matanya melirik jam di sudut layar laptop. “Katanya tadi pulang jam enam.”

Nadanya datar, nada orang mencatat galon dan token listrik.

“Udah makan? Ada sisa pizza di kulkas.”

“Udah,” kataku.

Aku belum makan sejak roti di pantry pukul sebelas pagi. Jawaban itu keluar sendiri, cepat dan ringan, sama otomatisnya dengan menutup pintu.

“Oke.” Ia mengetik sesuatu di laptop. “Satu tiket lagi, abis itu aku selesai.”

Kubuka kulkas karena tanganku perlu melakukan sesuatu. Di pintunya, papan tulis kecil yang dibeli Damian waktu kami pindah ke sini masih penuh tulisannya. Galon Senin. Servis AC tgl 14. Ultah Ibu (kado?). Tanda tanya di belakang kata kado adalah bagianku. Sudah tiga minggu tanda tanya itu di sana.

Pizzanya tinggal tiga potong, tumpang tindih di kotak, kejunya sudah keras. Kumakan satu sambil berdiri di depan kulkas yang terbuka. Dingin dan asin. Udara dingin dari dalam kulkas menyentuh lututku. Di belakangku, Damian berbicara lagi dengan suara sabarnya kepada orang lain yang komputernya rusak.

Kumakan potongan kedua.

Sesudah aku mandi, Damian sudah di sofa dengan kaki di atas meja kecil dan ponsel di tangan. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan menu aplikasi film yang belum dipilih siapa pun.

“Sini,” katanya, menepuk tempat di sebelahnya.

Aku duduk. Ia mengangkat kakiku ke pangkuannya tanpa melihat, dan ibu jarinya langsung menemukan titik pegal di tumit kananku. Enam tahun, dan ia hafal letak pegalku, sama hafalnya dengan letak sakelar lampu. Kubiarkan kepalaku bersandar ke lengan sofa.

“Capek, ya,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Lumayan.”

“Tadi ramai?”

Ini dia. Ia bertanya. Kubuka mulut.

“Tadi ada anak kecelakaan motor, terus…”

“Bentar, bentar, lihat ini dulu.” Ia memiringkan ponsel ke arahku. Seekor kucing oranye mencoba masuk ke kotak sepatu yang terlalu kecil, gagal, mencoba lagi dengan wajah sangat serius, lalu duduk di atas kotak itu dengan wajah puas. Damian tertawa sampai bahunya berguncang.

Aku ikut tertawa. Setengah detik terlambat, tapi ia tidak menyadarinya.

“Kucing tuh kenapa, ya,” katanya, masih tertawa, sudah menggulir ke video berikutnya. “Lanjut. Anak kecelakaan motor?”

“Iya. Perdarahan dalam. Lama banget nyarinya.”

“Wah.” Ibu jarinya masih bergerak di tumitku. “Selamat?”

“Selamat.”

“Alhamdulillah. Kamu hebat.” Ia mengusap pergelangan kakiku. “Pakai helm nggak dia?”

Dari semua yang terjadi hari ini, helm yang akhirnya duduk di antara kami.

“Pakai. Helmnya nggak ngaruh, yang kena perutnya.”

“Ngeri.” Ponselnya bergetar. Ia melihat layarnya dan wajahnya berubah menjadi wajah kerja. “Duh, Pak Hendra lagi. Bentar ya, Sayang.”

Kakiku dipindahkan dengan hati-hati ke sofa, dan ia berjalan ke meja makan sambil memasang headset. “Iya, Pak. Masih nggak bisa? Oke, coba kita lihat bareng.”

Kutatap menu film di layar televisi. Ada film yang sudah tiga kali kami tonton dan film yang sudah tiga kali kami lewati. Di meja makan, Damian menjelaskan sesuatu tentang kata sandi dengan kalimat yang sama, pelan, untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Ia tidak pernah kehilangan kesabaran dengan orang-orang ini.

Dua puluh menit kemudian ia kembali, menjatuhkan diri ke sofa, dan mengembalikan kakiku ke pangkuannya.

“Maaf. Tadi kamu cerita apa?”

“Nggak. Nggak penting.”

“Yakin?”

“Yakin.”

“Oke.” Bahunya turun sedikit, dan aku tidak bisa menyalahkannya. Ia mengambil remote. “Mau nonton apa? Yang kemarin belum selesai, atau yang itu?”

“Terserah.”

Ia memilih yang kemarin. Kami menonton setengah episode sebelum kepalanya jatuh ke sandaran sofa dan napasnya berubah. Kuambil remote dari tangannya dan kumatikan televisi, lalu aku duduk sebentar dalam gelap dengan kaki masih di pangkuan laki-laki yang baik itu.

Pukul sebelas lewat, kami sudah di tempat tidur. Damian tertidur dalam tiga menit. Ia selalu bisa tidur secepat itu. Dulu aku iri. Sekarang aku hanya menghitungnya.

Kamar kami gelap kecuali celah gorden yang memasukkan sedikit cahaya kota. Kubuka aplikasi catatan di ponsel dengan kecerahan paling rendah. Isinya daftar belanja, dosis obat yang sering kulupa, nomor rekening tukang AC, dan satu catatan berjudul Kado Ibu yang isinya kosong.

Kubuat catatan baru.

Jariku diam lama di atas papan ketik. Lalu, tanpa memutuskannya, aku mengetik dua kata.

aku bosan

Huruf kecil semua, tanpa titik.

Kuhapus.

Layar putih lagi. Kursor berkedip.

Kuketik yang lain.

hari ini aku menemukan robekan di belakang hati kanan, dengan jari, sebelum melihatnya. bu ratmi bilang nah.

Kusimpan. Catatan itu masuk ke daftar dengan judul otomatis dari kata-kata pertamanya, di antara Galon dan Kado Ibu.

Damian bergerak dalam tidurnya. Tangannya mencari pinggangku, menemukannya, lalu diam di sana, hangat dan berat. Kutunggu sampai napasnya teratur lagi.

Lalu kubuka catatan baru sekali lagi dan mengetik dua kata itu, hanya untuk melihat bentuknya.

“Belum tidur?”

Suara Damian serak. Matanya terbuka setengah, menatap cahaya di antara kami. Layar ponselku menyala terang, dua kata itu di tengahnya, huruf hitam di atas putih, sejengkal dari wajahnya.

Kutekan tombol samping. Layar mati.

“Lagi ngetik apa?”

“Daftar belanja,” kataku. “Sabun habis.”

“Yang lavender.” Matanya sudah tertutup lagi. “Besok aku beliin.”

Tangannya menepuk pinggangku dua kali, pelan, lalu berhenti. Dalam tiga menit napasnya sudah teratur kembali.

Aku berbaring dengan ponsel tertelungkup di dada. Sabun kami masih setengah botol. Di rumah ini, Damian yang mencatat kapan galon datang, kapan token habis, kapan setiap botol di kamar mandi tinggal seperempat. Ia tahu sabun kami belum habis.

Ia tidak bertanya apa-apa. Dan aku tidak tahu sudah berapa lama matanya terbuka sebelum ia bersuara.