Falling in Ghost — Bab 1
Bab 1
Sundari melilitkan sampur nila dua kali di pinggang kiri. Simpul mati di atas tulang pinggul. Jari menekan simpul sampai kain terasa menyatu dengan kulit. Miliknya.
Lantai batu pendopo Bekel Rekso dingin di bawah telapak kaki. Bau jati tua bercampur kemenyan, manis dan berat di tenggorokan. Obor bergoyang di empat sudut, dan bayangan empat saka guru bergeser di lantai setiap kali angin menyentuh api.
Kendang Joyo bersuara dari sudut pendopo. Dheng. Thak. Dhak-dhak. Thung. Telapak dan ujung jari silih berganti di kulit kendang, mengunci waktu yang harus diikuti tubuh Sundari.
Telapak kiri menekan batu. Dingin naik ke tumit, lutut terbuka, pinggul memutar ke kiri dengan lambat, dan simpul sampur menggigit kulit di setiap putaran. Punggung menegak ruas demi ruas sampai kemenyan masuk ke dasar paru-paru. Berat bergeser penuh ke kaki kiri, kepala menunduk mengikuti berat sanggul di tengkuk.
Lalu tenaga dilempar ke kanan, dan kain memotong udara dengan bunyi yang hanya bisa dibuat oleh kain yang dihentak tepat waktu. Leher terbuka sekejap. Panas obor menyentuh kulit yang biasanya tertutup, lalu kepala kembali sebelum siapa pun selesai melihat.
Di ujung gongan, Sundari nembang. Suaranya tipis dan tinggi, naik dari dasar dada, menumpang di atas tabuhan.
Seseorang mengetukkan logam ke cangkir arak. Perunggu pada keramik. Dingin, tetap, asing. Suara Sundari tertarik pulang ke tenggorokan sebelum barisnya selesai.
Sundari tidak mencari sumbernya. Kulit di sepanjang lengan kanannya sudah menemukan arah. Depan kanan.
Kursi.
Satu-satunya di pendopo ini. Dibawa tiga hari lalu dari pos di ujung desa, dipaksakan masuk ke ruang yang tidak mengenal kursi. Kayu gelap, sandaran tinggi, kaki-kaki yang menggores lantai batu. Joyo bersila di belakang kendang, Bekel Rekso di tikar sisi kanan, deretan ledek dan penabuh di lantai. Semuanya di bawah.
Kecuali dia.
Ledek. Tarian untuk menyenangkan laki-laki. Tarian perempuan yang bertahan hidup.
Tiga malam rombongan ledek Sariwani menari di Desa Selo. Malam pertama, tatapan itu datang dari ujung pendopo, di balik asap, masih bisa diabaikan. Malam kedua, kursi itu lebih dekat dan ketukan cincin lebih keras, dan tatapan itu tidak berhenti saat pertunjukan selesai. Malam ini, kursi itu berdiri di tempat yang membuatnya tidak bisa menari tanpa menghadapnya.
Bau arak menyusup di antara asap obor, bercampur tembakau kering. Tatapan dari depan menekan lengan kanan, bahu, leher. Tatapan yang tidak menonton tarian. Tatapan yang menghitung.
Sundari menari lebih dalam, lebih cepat. Sampur dikibas ke kiri, ke kanan, ditarik dan dilepas. Irama di dalam irama, tempat bersembunyi.
Tidak bisa.
Setiap kali kain naik, tubuhnya tersembunyi sepanjang satu denyut. Setiap kali kain jatuh, tatapan itu sudah menunggu di tempat yang sama, di kulit yang ditutup dan dibuka dan ditutup lagi.
Dari sisi kanan pendopo, Bekel Rekso bangkit. Lutut gemuk menekan lantai dulu sebelum tubuhnya berdiri penuh. Kain batiknya terlalu bagus, motif yang Sundari kenali dari pasar Kartasura, bukan dari mana pun di pegunungan kapur ini. Langkahnya pendek menuju kursi kayu, langkah orang yang sudah mengukur jarak itu berkali-kali.
Rekso membungkuk di samping kursi. Mulutnya bergerak dekat telinga laki-laki pucat. Tangan kiri mengelus kumis, sementara tangan kanan menyapu udara ke arah Sundari dengan telapak terbuka. Gerakan pedagang kain di pasar Kartasura saat memperlihatkan dagangan terbaiknya.
Laki-laki pucat menjawab tanpa mengalihkan mata. Satu kalimat, diucap dengan lidah yang menggesek gigi.
Rekso mengangguk. Senyumnya dimulai di kumis dan berhenti di situ.
Sundari menangkap gestur itu dari dalam putaran. Otot perut mengencang di bawah simpul sampur. Simpul yang tadi menyatu dengan kulit sekarang terasa terpisah, kain di atas kulit. Dua laki-laki baru saja membicarakan tubuhnya tanpa menyentuhnya, dan tubuhnya tahu.
Kendang Joyo masuk ke pola penutup. Tiga ketukan cepat, jeda, lalu irama lambat yang menandai gerakan terakhir. Biasanya pola itu berarti boleh berhenti, boleh bernapas.
Sundari memperlambat. Putaran pinggul mengecil. Sampur jatuh lebih dekat, melilit lengan, menempel di pinggang.
Tatapan dari kursi berubah.
Turun. Sundari merasakannya sebagai panas yang salah di kulit pinggul, tepat di tempat simpul menekan. Paha dalam, yang masih menahan posisi rendah, ingin merapat sebelum hitungan mengizinkan. Di antara lutut dan tepi kain, kulitnya mendadak sadar bahwa ia terbuka. Udara di situ lebih berat, berat tangan yang belum menyentuh tapi sudah memutuskan akan menyentuh.
Otot punggung menegang dari tulang ekor ke tengkuk. Keringat di belakang telinga mendingin. Kulitnya pernah merasakan tatapan yang sama bertahun-tahun lalu, di bawah matahari yang lebih panas dan suara tawar-menawar yang lebih keras.
Dia tidak berhenti.
Telapak kiri mendorong lantai. Pinggul berputar ke kanan. Sampur terbang lagi, lebih lebar, lebih sengaja, menangkap cahaya obor dan melemparkan bayangannya ke atas bayangan saka guru.
Sampur ini miliknya. Simpul ini miliknya. Ruang antara satu gerakan dan gerakan berikutnya juga miliknya, satu-satunya ruang di pendopo ini yang belum dikuasai siapa pun.
Gerakan terakhir. Lutut meluruskan perlahan, pinggul kembali ke pusat. Kedua lengan jatuh ke samping, jari-jari menemukan simpul mati di atas tulang pinggul. Masih di situ. Masih kencang.
Kepala menunduk. Napas diatur lewat mulut, pelan dan dangkal, agar dada tidak terlihat naik-turun. Agar tidak ada bagian tubuhnya yang bergerak tanpa izinnya.
Gong terakhir berdengung, menyebar, lalu habis. Jangkrik dari luar menyerbu masuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan gamelan. Kemenyan yang tadi manis sekarang pekat dan basi, bercampur keringat dan arak yang tumpah di lantai.
Sundari berdiri di tengah lantai batu. Keringat mengering di punggung dan meninggalkan garis garam yang gatal. Bau tubuhnya sendiri naik, keringat, nila, kemenyan yang menyerap di kain. Bau kerja. Bau perempuan yang baru selesai menari.
Laki-laki di kursi tidak berdiri.
Kakinya tetap menyilang. Jari tengah kanan dengan cincin perunggu cor mengetuk sandaran kursi, pelan, teratur, setiap ketukan satu jeda napas. Irama orang yang sudah memutuskan apa yang akan terjadi dan tinggal menunggu.
Rekso kembali ke samping kursi dan membungkuk lebih dalam dari yang pertama. Dia berbicara krama, menaburkan kata-kata penghormatan untuk priyayi kepada laki-laki yang tidak mengerti satu kata pun. Nadanya rendah dan hati-hati, nada orang yang menyampaikan harga yang sudah disepakati semua pihak kecuali pihak yang dijual.
Jawaban datang dalam bahasa asing. Tiga kalimat pendek, datar, tanpa naik-turun yang bisa dibaca. Bahasa yang tidak perlu dipahami untuk dimengerti.
Rekso mengangguk dua kali, lebih cepat dari sebelumnya.
“Sendika dhawuh.”
Laki-laki pucat meluruskan kaki. Sol sepatu kulit berat menghantam lantai batu, keras dan asing di pendopo yang tidak mengenal sepatu. Dia tetap duduk. Hanya mengambil ruang lebih banyak di pendopo yang bukan miliknya.
Di pinggir pendopo, rombongan Sariwani berkemas. Kendang Joyo dimasukkan ke sarung kain, pelan, seperti menidurkan sesuatu. Bonang ditumpuk. Saron diangkat. Tidak ada yang masuk ke tengah. Mereka tahu batas antara dunia mereka dan dunia di dalam pendopo ini, dan batas itu sudah ada jauh sebelum laki-laki pucat membawa kursinya.
Rekso berbalik dari kursi. Merapikan kain di pinggang yang tidak perlu dirapikan. Tangannya terangkat sedikit ke arah kursi kayu dengan telapak terbuka. Sebelum kata pertama keluar, Sundari sudah tahu dari arah tubuhnya, separuh menghadapnya, separuh condong ke kursi.
Jari-jari Sundari di simpul sampur mengencang. Satu-satunya benda di pendopo ini yang masih bisa dia pegang.
Di kursi kayu, laki-laki pucat menuang arak sendiri ke cawannya. Cawan terangkat ke bibir. Di atas tepi cawan, matanya diam, tanpa kedip, tetap di arah yang sama sejak malam dimulai.
Pondok tumpangan gelap. Cahaya bulan masuk dari celah dinding bambu dan memotong lantai tanah menjadi jalur-jalur putih.
Sundari duduk di tikar pandan di sudut, tikar yang sudah tipis di tengah, aus oleh tubuh-tubuh penari yang datang dan pergi sebelum rombongan Sariwani. Bau tanah lembap naik dari bawahnya, bercampur jerami tua dan keringat orang banyak. Dinding bambu berderak setiap kali angin lewat. Malam ini setiap derak membuat telinga mencari pintu.
Sampur nila masih di pinggang, basah keringat, dingin sekarang. Sundari tidak melepasnya.
Delapan tubuh memenuhi ruang sempit tanpa sekat. Sundari, tiga penari, empat penabuh. Tidak ada yang tidur nyenyak. Seseorang membalikkan badan dan anyaman pandan berderit. Di sudut dekat pintu, dua penabuh menarik selimut sampai menutupi kepala meski udara malam tidak dingin.
Kendang Joyo di sarung kain di sudut lain. Joyo sendiri belum masuk.
“Tadi apa yang dibilang Rekso?”
Laras. Dari tikar di samping, satu lengan jauhnya. Suaranya mengalir tanpa jeda, air dari gentong yang dimiringkan terlalu cepat.
“Dari. Tadi apa? Yang dibisikkan. Kamu dengar ndak? Rekso terus bolak-balik dari tikar ke kursi, dari kursi ke tikar. Kenapa kursinya dipindah lebih dekat? Tiga malam makin dekat. Kamu lihat senapannya? Disandarkan di kaki kursi seperti tongkat jalan yang bersandar di pintu.”
Laras bicara menghadap langit-langit bambu. Mata besarnya tidak terlihat di gelap, tapi Sundari tahu mata itu terbuka. Laras tidak pernah bicara dengan mata tertutup. Tangannya bergerak di atas selimut tipis. Menarik benang, memelintir, melepas.
“Penabuh bilang De Vos bawa dua prajurit baru kemarin. Yang satu jaga pos, yang satu jaga jalan ke pasar. Jalan ke pasar, Sundari. Kenapa jaga jalan ke pasar kalau bukan supaya kita ndak bisa pergi?”
Dari tikar lain, seseorang menghela napas yang terlalu panjang untuk napas tidur.
Laras tidak menunggu jawaban. Laras tidak pernah menunggu jawaban.
“Dan gamelan tadi. Joyo mainnya beda. Lebih pelan. Seperti nabuh kaca.”
“Tidur, Laras.”
Sundari tidak menghadap Laras. Matanya lurus ke dinding bambu, ke garis-garis cahaya bulan yang tidak bergerak.
“Tapi…”
“Besok main lagi.”
Lebih datar dari yang pertama. Jari-jari Sundari bergerak di simpul sampur. Menekan, memeriksa, memastikan.
“Sundari, aku serius. Rekso itu…”
“Rekso itu bekel. Memang kerjanya begitu.”
Kalimat yang menutup pintu tanpa membanting. Empat tahun menari di rombongan yang sama, tidur di tikar yang berdekatan di puluhan pondok, saling mengikat sanggul sebelum pertunjukan. Empat tahun cukup bagi Laras untuk membedakan jawaban dari penolakan.
Rahang Sundari mengunci tanpa perintah. Jari di simpul bergerak terlalu cepat, menekan, melepas, menekan. Irama jarinya di akhir pertunjukan tadi, saat Rekso berbalik menghadapnya dengan telapak terbuka.
Laras diam.
Tangan yang tadi menarik benang sekarang diam di atas perut. Napasnya melambat, dikendalikan. Sunyi pondok berubah bentuk. Tadi sunyi yang bergerak, napas orang banyak, derit tikar, angin di bambu. Sekarang sunyi yang mendengarkan.
Laras membalikkan badan. Menghadap dinding. Menarik selimut ke bahu, pelan, tanpa suara.
Punggung Laras lebih lebar dari punggungnya sendiri, kulit lebih terang, tanpa bekas luka. Punggung itu biasanya hangat di tikar-tikar sempit, panasnya menembus kain tipis, dekat dan biasa. Malam ini terasa lebih jauh dari satu lengan. Punggung itu sudah berhenti bertanya.
Sundari tidak memanggil.
Otot paha berkedut. Telapak kaki gatal ingin menyentuh tanah. Tubuh yang diam sejak masuk pondok sekarang menolak diamnya sendiri.
Dia bangkit. Lutut lebih dulu, lalu telapak menekan lantai tanah, tulang punggung menegak dari bawah ke atas, sama dengan awal pertunjukan tadi. Langkah ke pintu. Melewati tikar Laras tanpa melihat ke bawah. Melewati penabuh yang napasnya terlalu teratur untuk napas orang yang benar-benar tidur.
Tangan mendorong pintu bambu. Tali berderit.
Dari tikar di sudut, suara Joyo yang baru masuk. Deham pelan, batuk kecil. Jari-jari Joyo mengetuk sesuatu di gelap, mungkin lantai, mungkin lututnya sendiri. Ketukan pertama, kedua, lalu ketiga yang terlambat. Sundari sudah mendengar pola itu ribuan kali. Malam ini pola itu terdengar seperti pertanyaan.
Sundari tidak menoleh.
Udara malam Selo menyentuh lengan, leher, dada di balik kain yang longgar. Seharusnya melegakan. Tapi udara itu menyentuh kulit tepat di tempat tatapan tadi menekan. Lengan kanan, bahu, leher. Cetakan di tanah liat yang sudah mengering, bentuknya masih di situ meski tangan sudah pergi.
Langit tanpa awan. Bulan tiga perempat menggantung di atas deretan bukit kapur yang mengurung Selo. Di malam hari kerucut-kerucut putih keabu-abuan itu berderet rapat seperti gigi. Cahaya bulan memantul dari tanah kapur, dan desa bercahaya dingin, biru-putih.
Bau kapur kering masuk ke hidung. Bau batu yang sudah terbuka ke udara jauh sebelum ada orang yang menamai bukit ini. Bau yang tidak menuntut apa-apa.
Di ujung desa, pos Kumpeni. Kotak gelap dari kayu dan batu, obor kecil di depan pintu membuat lingkaran kuning di tanah. Bayangan prajurit di bawahnya, berdiri atau duduk, Sundari tidak bisa membedakan dari jarak ini. Pos itu menjaga jalan ke pasar, jalan keluar dari Selo.
Sundari tidak melangkah ke arah pos. Dia ke tanah lapang di samping pondok, tempat gerobak Sariwani diparkir dan kuda diikat di pohon jati. Butiran kapur masuk ke celah kulit pecah-pecah di telapak. Perih kecil. Hidup.
Jari-jari di sampur menekan simpul. Melepas. Menekan lagi. Lalu, pelan, tanpa musik, jari-jari itu berpindah dari simpul ke udara. Kelingking terangkat. Pergelangan memutar. Jari-jari membuka satu per satu.
Pola yang bukan Ledek Sariwani.
Sundari menurunkan tangan. Mengepalkan jari.
Dari dalam pondok, tidak ada suara. Laras tidak menyusul. Joyo tidak memanggil.
Kakinya menolak arah pondok. Di luar ada sesuatu yang belum selesai. Belum punya nama, tapi sudah punya arah. Ke atas, ke bukit kapur di balik tanah lapang, ke tempat yang gelap dan putih dan sunyi, tempat tidak ada kursi kayu dan tidak ada tangan yang menyapu udara ke arah tubuhnya.
Angin malam membawa bau yang asing, lain dari kapur, kemenyan, dan arak. Manis dan ringan, bau kapas yang jatuh dari pohon yang berbunga di musim yang salah.
Sundari mengangkat kepala. Hidungnya menangkap arah. Dari bukit.