Syntories

Khaos — Sabit Kelabu

Bab 1: Sabit Kelabu

Bumi adalah seorang ibu, dan anak-anaknya dikubur di dalam tubuhnya sendiri.

Namanya Gaia, dewi yang tubuhnya adalah seluruh daratan. Sebelum dia, yang ada hanya kekosongan yang disebut Khaos. Lalu Gaia muncul dan terbentang sendirian di bawah kekosongan itu, dan dari atas, dingin turun ke setiap jengkal tubuhnya. Bersamanya muncul pula Tartaros, gelap yang paling dalam, jauh di bawah dasar tubuhnya. Tartaros tidak pernah berbicara, dan untuk waktu yang sangat lama Gaia tidak memikirkannya.

Maka ia melahirkan Langit. Langit juga hidup, seorang dewa bernama Ouranos, sama besar dengan Gaia, dan bintang-bintang bertaburan di tubuhnya. Ouranos membentang di atas Gaia dari tepi ke tepi, dan dingin itu berhenti turun. Sesudah itu Gaia melahirkan gunung-gunung dan laut.

Lalu Langit menjadi suaminya. Setiap malam Ouranos turun dan berbaring di atas Gaia, hangat dan berat, dan dari pelukan itu Gaia mengandung.

Mula-mula ia mengandung dua belas putra dan putri. Anak-anak itu tidak sebesar Bumi dan Langit. Mereka dewa-dewa yang tinggi dan kuat, cukup kecil untuk muat di ceruk-ceruk tubuh ibunya. Gaia mengenali masing-masing dari caranya bergerak di dalam dirinya. Ada yang lamban, ada yang gelisah, ada yang begitu tenang sampai ia sering lupa anak itu ada.

Yang terakhir dari mereka bernama Kronos. Sejak di dalam, Kronos menekan terus ke satu arah. Gaia belum tahu ke mana.

Sesudah itu ia mengandung tiga anak yang masing-masing hanya punya satu mata, bulat, di tengah dahi. Tangan mereka kuat dan pandai membentuk apa saja. Mereka disebut Kyklopes. Lalu tiga lagi, yang paling besar dari semuanya. Dari bahu masing-masing tumbuh seratus lengan dan lima puluh kepala. Ketika yang pertama dari mereka bergerak di dalam dirinya, gunung-gunung di punggung Gaia bergeser.

Delapan belas anak semuanya. Gaia menghitung mereka dan merasakan berat mereka semua.

Ia menyiapkan tempat bagi mereka. Lembah-lembah ia lapangkan dan lereng-lereng ia landaikan, supaya ada jalan naik dari dalam dirinya ke permukaan. Di tepi laut ia membentangkan dataran yang luas dan rata. Tiga anaknya yang berlengan seratus akan membutuhkan ruang sebesar itu untuk berdiri.

Pada malam-malam yang sunyi, Gaia berbicara kepada mereka satu per satu, pelan, dari dalam dirinya sendiri. Ia bercerita tentang dataran di tepi laut, tentang angin di puncak gunung, dan tentang bintang-bintang di tubuh ayah mereka, yang akan mereka lihat begitu lahir.

Kemudian ia menunggu mereka lahir ke cahaya, ke tempat yang sudah ia siapkan.


Anak pertama yang lahir mendorong ke atas dengan kepalanya. Gaia merasakan tanah di atas tubuh anak itu merekah, dan seberkas cahaya bintang masuk ke celahnya.

Gaia menahan napasnya. Ia melebarkan rekahan itu sedikit demi sedikit, sangat pelan, supaya anaknya tidak terluka. Ia bisa merasakan kepala kecil itu bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari arah cahaya.

Lalu cahaya itu hilang.

Ouranos menekan turun. Ia tidak menunggu anak itu membuka mata. Dengan seluruh beratnya ia mendorong anak itu kembali ke dalam, ke ceruk di perut Bumi yang paling jauh dari permukaan, lalu menutup jalan itu dengan dirinya sendiri.

Gaia merasakan anaknya meluncur turun melewati lapisan demi lapisan tubuhnya, makin jauh dari rekahan yang tadi ia buka. Rekahan itu menutup sendiri di bawah berat Ouranos. Dataran yang ia bentangkan di tepi laut tetap kosong.

Untuk anak kedua, Gaia mencoba cara lain. Ia membuka jalan jauh dari tempat yang pertama, di sisi gunung yang paling curam, tempat Langit paling jarang menyentuhnya. Ia membukanya diam-diam, sedikit demi sedikit, dan menahan semua gempa supaya tidak ada yang terasa sampai ke atas.

Anak itu baru sampai separuh jalan ketika berat Ouranos tiba di lereng itu. Ia sudah menunggu di sana.

Untuk anak ketiga, Gaia tidak lagi membuka jalan. Anak-anak itu mendorong sendiri, dan setiap kali Ouranos menekan mereka kembali.

Begitu terus, sampai tak seorang pun dari delapan belas anaknya sempat berdiri di bawah langit. Setiap kali seorang anak lenyap ke bawah, Ouranos tidak segera mengangkat beratnya. Ia berlama-lama di tempat itu, menekan dan berputar, meratakan bekas rekahan sampai tak tersisa. Bintang-bintang di tubuhnya berkelip lebih terang. Lalu ia naik lagi dengan tenang, dan menunggu anak berikutnya.

Anak-anaknya tinggal di dalam dirinya, di tempat yang tak pernah tersentuh cahaya. Enam yang terakhir lahir bahkan tidak dibiarkan bergerak bebas. Setiap kali mereka mendorong ke atas, Ouranos menekan lebih berat. Akhirnya ia mengikat tiga Kyklopes dengan rantai yang kuat, dan tiga yang berlengan seratus, yang paling besar, ia ikat lebih dalam lagi, di batas-batas Gaia yang terakhir. Gaia merasakan setiap mata rantai itu menekan dari dalam, di tempat yang tak bisa ia jangkau untuk dilonggarkan.

Waktu yang panjang sekali berlalu. Di dalam gelap, yang kecil tumbuh dan yang besar makin besar. Tiga yang berlengan seratus menggeliat di dalam rantai mereka, dan setiap kali mereka berbalik, lembah-lembah di permukaan retak dan mata air berubah keruh. Para Kyklopes mengetuk-ngetuk rantai mereka dengan jari-jari yang pandai, mencari mata rantai yang lemah. Dua belas anak yang pertama berbisik satu sama lain di dalam gelap. Gaia tidak bisa menangkap kata-kata mereka, hanya nadanya, dan nada itu makin lama makin rendah.

Kronos diam. Ia terus menekan ke arah yang sama, dan sekarang Gaia tahu ke mana arah itu, ke atas, ke arah ayahnya.

Setiap kali Langit turun, tekanan Kronos menajam tepat di satu titik, di bawah tempat ayahnya berbaring. Tekanan itu tidak mengendur sampai Langit naik lagi.

Gaia mengerang panjang, dari ngarai yang paling dalam.

Erangan itu keluar dari ngarai-ngarainya dan dari dasar laut. Lembah-lembah di dadanya terhimpit rapat sampai mata airnya berhenti mengalir. Ia mencoba bergeser, tetapi dari atas Langit menindihnya di setiap sisi, dan dari dalam delapan belas anaknya menekan balik.

Berhari-hari ia mengerang. Sesudah itu ia mulai merancang.


Ia mengerjakannya diam-diam, jauh dari permukaan, supaya Ouranos tidak merasakan apa pun. Dari bagian terdalam tubuhnya, lebih dalam dari ceruk tempat anak-anaknya terkurung, Gaia mengeluarkan sesuatu yang belum pernah ada di dunia. Bahan itu kelabu dan keras, lebih keras dari batu mana pun di gunung-gunungnya. Itulah adamas.

Ia menariknya memanjang. Ia melengkungkannya seperti lekuk lembah. Lalu di sisi dalam lengkungan itu ia menorehkan gerigi, satu demi satu, rapat dan tajam dan sedikit bengkok, sampai bahan kelabu itu menjadi sebilah sabit yang besar.

Ia menimbangnya. Sabit itu berat sekali, dan ujungnya dingin. Ia mencobanya pada sebongkah batu di dasar dirinya, batu tertua yang ia punya. Sekali tarik, geriginya mengoyak batu itu menjadi dua tanpa suara.

Kemudian ia berbicara kepada anak-anaknya, seperti pada malam-malam dulu. Ia tidak perlu meninggikan suara, karena mereka semua ada di dalam dirinya. Suaranya tenang.

“Anak-anakku,” katanya. “Kalian tahu siapa yang mendorong kalian turun setiap kali kalian mencoba naik. Kalau kalian mau mendengarkan aku, kita bisa membalasnya, dan kalian semua bisa naik ke cahaya. Dia yang lebih dulu berbuat keji.”

Ia menurunkan sabit itu melewati lapisan demi lapisan tubuhnya, sampai benda itu berhenti di ceruk tempat anak-anaknya berdesakan.

Lalu ia menunggu jawaban mereka. Dua belas anak yang pertama berhenti berbisik. Rantai-rantai di ceruk yang lebih dalam berhenti bergemerincing. Delapan belas anak mendengar ibu mereka, dan tak seorang pun menjawab.

Dua belas yang pertama pernah mencoba naik, dan semuanya pernah didorong turun. Di atas mereka, Langit masih berbaring di setiap sisi.

Sabit itu tergeletak di dekat mereka, kelabu di dalam gelap. Dua belas anak itu tidak terikat, dan tak satu tangan pun terulur.

Gaia mencari anak sulungnya, yang dulu sempat menyentuh cahaya bintang sebelum didorong turun. Anak itu tidak bergerak sama sekali. Ia mencari putri-putrinya, yang dulu paling sering berbisik. Mereka meringkuk lebih dalam. Ia mencari tiga yang berlengan seratus. Lengan mereka terikat rapat, dan tak satu pun bisa meraih sabit itu walau mereka mau.

Lalu yang bungsu dari dua belas itu bergerak. Gaia merasakan tangannya meraba di dalam gelap, menemukan gagang sabit, dan menggenggamnya.

“Ibu,” kata Kronos. Suaranya datar, seperti sudah lama ia siapkan. “Aku yang akan mengerjakannya. Aku tidak takut padanya. Menyebut namanya pun aku tidak sudi. Ibu benar, dia yang lebih dulu berbuat keji.”

Di seluruh tubuh Gaia yang lebar, gunung-gunung yang lama merunduk menegakkan punggungnya sedikit.


Gaia memindahkan Kronos ke sebuah lekuk tersembunyi di tubuhnya, dekat ke permukaan dan cukup gelap. Ia meletakkan sabit bergerigi itu di tangan anaknya.

“Dengarkan baik-baik,” katanya. “Kau hanya punya satu kesempatan.”

Lalu ia menjelaskan segalanya, dari kapan ayahnya akan datang sampai ke mana Kronos harus melempar apa yang ia tebas.

Kronos mendengarkan tanpa memotong. Ketika ibunya selesai, ia tidak bertanya apa pun.

“Kau tidak takut?” tanya Gaia.

Kronos diam sebentar.

“Aku sudah terlalu lama di bawah,” katanya.

Gaia tidak bertanya lagi. Jauh di dalam, saudara-saudaranya ikut mendengarkan, dan dinding batu di sekitar mereka sunyi.

Kronos menunggu dalam persembunyian. Di atas kepalanya, tanah tinggal selapis tipis. Sabit itu berat di tangannya. Ia meraba geriginya dengan ujung jari dan merasakan betapa rapat dan tajamnya.

Lalu Ouranos datang, dan malam datang bersamanya.

Mula-mula bintang-bintang di tubuhnya menyala lebih terang, lalu turun, turun makin rendah. Gelap mengikuti di belakangnya dan menutupi puncak-puncak gunung satu per satu, lalu lembah, lalu laut. Ombak merendah di bawah beratnya yang datang.

Ia membentangkan dirinya di atas Bumi, lebar dan penuh. Gaia merasakan beratnya tiba di bahu gunung-gunungnya, di dataran tepi laut yang kosong, di lekuk tempat anaknya bersembunyi. Ia merasakannya sampai tak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak tertutup.

Hangatnya masih sama dengan malam pertama ia turun dulu. Gaia teringat dataran di tepi laut, yang masih kosong. Ia membiarkan suaminya datang sepenuhnya, dan di bawahnya ia merasakan anaknya bernapas, menunggu saat yang sudah ditentukan ibunya.

Di dalam lekuk yang gelap, Kronos mengangkat sabit.