Langit yang Retak — Telur
Bab 1: Telur
Pada mulanya, langit dan bumi belum terpisah. Keduanya bercampur menjadi satu, keruh dan gelap, di dalam sesuatu yang bentuknya serupa sebutir telur.
Di dalam telur itu lahir Pangu.
Ia lahir tanpa ibu dan tanpa ayah, tanpa siapa pun yang menunggunya. Tidak ada cahaya untuk melihat tubuhnya sendiri, dan tidak ada udara yang bergerak. Yang ada hanya gelap yang kental di sekelilingnya, menekan dari segala arah, lunak dan berat sekaligus.
Delapan belas ribu tahun ia tinggal di dalam gelap itu.
Lalu telur itu terbuka.
Ia tidak pecah dengan suara. Ia terbuka pelan-pelan, seperti kabut yang terbelah. Bagian yang ringan dan jernih mulai naik. Bagian yang berat dan keruh mulai turun. Yang naik menjadi langit, dan yang turun menjadi bumi, dan Pangu berada di antara keduanya.
Setiap hari langit naik setinggi satu depa. Setiap hari bumi menebal setebal satu depa. Dan setiap hari tubuh Pangu bertambah panjang satu depa, mengisi celah yang terbuka di antara keduanya.
Begitu terus. Tidak ada yang menghitung hari, karena belum ada matahari untuk menandai pagi. Tetapi Pangu merasakan langit di atas kepalanya makin jauh, dan bumi di bawah kakinya makin dalam, dan tubuhnya sendiri makin panjang, sedikit demi sedikit, tanpa berhenti.
Delapan belas ribu tahun lagi berlalu.
Langit sudah sangat tinggi. Bumi sudah sangat tebal. Dan Pangu sudah sangat panjang, begitu panjang sampai jarak antara langit dan bumi adalah panjang tubuhnya sendiri. Jauh kemudian orang mengukurnya, dan mereka menyebut angka sembilan puluh ribu li. Tak seorang pun pernah berjalan sejauh itu.
Selama itu ia tidak pernah tidur dan tidak pernah berbaring. Langit naik, bumi menebal, dan ia tumbuh, sehari demi sehari, ketiganya bersama-sama, dan tidak ada yang pernah menyuruh mereka berhenti. Di atas kepalanya, langit yang baru masih kosong. Di bawah kakinya, bumi yang baru masih gelap.
Lalu Pangu tidak tumbuh lagi.
Ia sudah terlalu tua. Ia berbaring di antara langit dan bumi yang ia jaga terbuka selama delapan belas ribu tahun, dan napasnya makin pelan.
Ketika ia hampir mati, tubuhnya mulai berubah.
Napasnya yang terakhir keluar dari dadanya dan tidak kembali. Napas itu menjadi angin, dan awan, dan sesuatu bergerak di antara langit dan bumi, yang selama ini diam. Suaranya menjadi guntur. Mata kirinya terbuka sekali lagi dan menjadi matahari, dan mata kanannya menjadi bulan. Sejak itu ada terang dan ada malam.
Tubuhnya yang panjang rebah dan menjadi gunung-gunung di empat penjuru dunia. Darahnya mengalir dan menjadi sungai-sungai. Dagingnya menjadi ladang. Rambutnya terurai ke langit dan menjadi bintang-bintang. Keringat yang terakhir di kulitnya turun sebagai hujan yang pertama.
Ketika semua itu selesai, Pangu sudah tidak ada. Yang ada hanya dunia.
Dunia itu indah. Gunung-gunungnya berdiri di empat penjuru, sungai-sungainya mengalir, dan hujan turun di atas rumput yang baru tumbuh. Matahari terbit dan terbenam, bulan menyusul, dan bintang-bintang bertaburan di langit malam.
Tetapi belum ada seorang pun yang melihatnya.
Dewi itu bernama Nüwa.
Ia berjalan di tepi sungai yang dulu adalah darah Pangu, dan tidak ada jejak kaki lain di tanah selain jejak kakinya sendiri. Ia berjalan sampai ke kaki gunung dan kembali lagi. Ia mendengar angin di pepohonan dan air di bebatuan. Ia tidak mendengar suara siapa pun.
Langit dan bumi sudah terbuka. Tetapi belum ada manusia.
Ia sudah mencoba berbicara kepada sungai. Sungai itu menjawab dengan bunyi yang sama setiap kali, gemericik yang tidak peduli apa yang ia katakan. Ia sudah mencoba berbicara kepada gunung. Gunung itu mengembalikan suaranya sendiri, sedikit lebih pelan, dari lereng di seberang. Ia memanggil, dan yang menjawab adalah dirinya.
Pada malam hari ia berbaring di rumput dan memandang bintang-bintang yang dulu rambut Pangu. Bintang-bintang itu berkelip di tempatnya masing-masing, jauh dan dingin. Kadang-kadang ia menunggu salah satunya bergerak. Tidak ada yang bergerak.
Di pagi hari ia bangun di tempat yang sama, dan rumput di bawah tubuhnya sudah tegak lagi seolah tidak pernah ada yang berbaring di sana.
Pada suatu pagi ia berhenti di sebuah tebing sungai yang tanahnya kuning dan lembap. Ia berlutut dan mengambil segenggam tanah itu. Tanah itu dingin dan liat, dan menurut di tangannya.
Ia mulai membentuknya.
Mula-mula sebuah kepala, bulat, seukuran buah kecil. Lalu bahu. Lalu dua lengan, yang ia gulung di antara telapak tangannya sampai panjang dan ramping. Lalu tubuh, dan dua kaki. Dengan ujung kukunya ia menorehkan dua mata, dan sebuah mulut di bawahnya.
Ia meletakkan sosok tanah itu di atas batu dan memandanginya.
Sosok itu menggeliat. Dadanya bergerak naik turun. Matanya yang tadi hanya torehan terbuka, dan ia memandang Nüwa, lalu memandang langit, lalu memandang tangannya sendiri. Ia membuka mulut, dan dari mulut itu keluar suara.
Itulah manusia yang pertama. Ia mengangkat lengannya yang baru ke arah cahaya, dan memandangi jari-jarinya bergerak.
Nüwa mengambil segenggam tanah lagi, lebih banyak dari tadi.
Ia membentuk mereka satu per satu, dari pagi sampai senja, dan dari senja sampai pagi lagi. Kepala, bahu, lengan, tubuh, kaki, mata, mulut. Setiap kali ia selesai, sosok di tangannya bergerak, berdiri, dan berjalan menjauh di tepi sungai untuk melihat dunia yang baru.
Tebing kuning itu mulai cekung bekas tangannya. Jari-jarinya kaku oleh tanah yang mengering.
Tetapi dunia ini luas, jauh lebih luas dari yang bisa diisi tangan siapa pun. Dari tebing itu Nüwa bisa melihat sungai-sungai mengalir ke arah yang belum pernah ia datangi, dan gunung-gunung di empat penjuru yang lerengnya masih kosong. Setiap sosok yang ia bentuk berjalan pergi dan menjadi titik kecil di padang yang terlalu besar.
Tangannya mulai gemetar ketika menggulung lengan-lengan kecil itu. Kadang-kadang sebuah kepala retak sebelum selesai, dan ia harus mulai lagi.
Maka ia mengambil seutas tali, dan mencelupkannya ke dalam lumpur di tepi sungai. Lalu ia mengangkat tali itu tinggi-tinggi dan mengibaskannya.
Lumpur memercik dari tali itu ke segala arah. Setiap percikan yang jatuh ke tanah menggeliat, mengembang, dan bangkit menjadi seorang manusia. Ratusan sekaligus. Mereka berdiri di tepi sungai dengan tubuh basah, memandang sekeliling, dan berjalan pergi ke padang-padang dan lereng-lereng yang kosong.
Nüwa mencelupkan tali itu lagi, dan mengibaskannya lagi.
Begitulah dunia mulai penuh. Ada asap dari api pertama di lembah-lembah. Ada suara anak-anak di tepi sungai. Ada jejak kaki di tanah, ribuan, ke segala arah.
Nüwa duduk di atas batu di tebing kuning itu dan mendengarkan semuanya. Dari bawah terdengar tawa, tangis bayi, dan seseorang yang memanggil temannya dengan nama yang baru saja ia karang.
Kadang-kadang ia turun ke lembah dan berjalan di antara mereka. Mereka tidak selalu mengenalinya. Mereka sedang sibuk dengan dunia yang baru, menggosok kayu, menangkap ikan dengan tangan kosong, menamai bunga-bunga dengan nama yang esok harinya mereka lupakan. Seorang anak kecil pernah menarik ujung kainnya dan bertanya apakah ia juga baru datang dari tepi sungai. Nüwa berjongkok dan mengusap pipi anak itu dengan ibu jarinya. Pipi itu masih berbau tanah basah.
“Ya,” katanya. “Aku juga datang dari tepi sungai.”
Anak itu mengangguk puas dan berlari pergi.
Pada malam hari Nüwa naik ke puncak gunung dan memandang ke bawah. Di setiap lembah ada titik api kecil yang berkedip. Dulu dunia ini gelap dan sunyi di bawah langit yang tinggi. Sekarang di bawah langit yang sama ada ribuan api, dan di sekeliling setiap api duduk orang-orang yang ia bentuk dengan tangannya sendiri.
Ia menghitung api-api itu sampai lelah, lalu berhenti menghitung, dan hanya memandanginya. Angin dari lembah membawa bau kayu terbakar dan suara orang bernyanyi, pelan, dengan kata-kata yang belum pernah ia ajarkan.
Lalu pada suatu hari langit runtuh.
Tidak ada yang melihat sebabnya. Yang terlihat hanya akibatnya, satu demi satu, dan makin lama makin dekat.
Empat tiang yang menopang langit di empat penjuru dunia patah. Langit tidak lagi menutupi bumi dengan utuh. Di beberapa tempat ia retak, dan dari retakan itu tampak gelap yang lebih tua dari langit. Bumi tidak lagi menyangga semua yang ada di atasnya. Sembilan wilayahnya terbelah, dan tanah di antara wilayah-wilayah itu menganga.
Api menyala dan tidak mau padam. Ia menjalar dari hutan ke hutan, dari lembah ke lembah, dan tidak ada hujan yang bisa memadamkannya.
Air naik dan tidak mau surut. Ia membanjiri padang-padang dan desa-desa, dan tidak berhenti.
Binatang-binatang buas keluar dari hutan yang terbakar dan memangsa manusia. Burung-burung pemangsa turun dari langit yang retak dan menyambar orang-orang tua dan orang-orang lemah yang tidak bisa lari.
Gunung-gunung di empat penjuru berguncang. Di malam hari tidak ada lagi titik-titik api kecil di lembah. Yang ada hanya satu api besar yang memanjang dari cakrawala ke cakrawala, dan di sebelahnya air yang berkilat merah memantulkan nyala itu.
Nüwa berdiri di tebing kuning itu, di tempat ia dulu membentuk manusia pertama dari segenggam tanah. Di bawahnya, di tepi sungai, anak-anak yang ia bentuk berlarian dari api ke air dan dari air ke api, dan tidak menemukan tempat yang aman.
Di antara mereka, di tepi air yang terus naik, seorang anak kecil berdiri sendirian dan menangis. Nüwa tidak tahu apakah itu anak yang dulu menarik ujung kainnya. Dari atas tebing, semua anak tampak sama kecilnya.
Ia menuruni tebing itu, mengangkat anak itu ke atas batu yang tinggi, dan mendudukkannya di sana. Tangan anak itu mencengkeram kainnya dan tidak mau lepas. Nüwa melepaskan jari-jarinya satu per satu, pelan, dan meletakkan tangan kecil itu di atas batu.
“Tunggu di sini,” katanya.
Lalu ia berdiri dan menengadah ke langit yang retak.