Mengapa Kapal Besi Mengapung, tetapi Paku Tenggelam? — Kapal yang tidak tenggelam
Bab 1 — Kapal yang tidak tenggelam
Iota berhenti di tepi sungai. Sebuah kapal besar lewat di hadapannya. Badannya abu-abu, tinggi seperti rumah bertingkat, dan bagian bawahnya masuk ke dalam air. Tapi kapal itu tidak turun ke dasar sungai. Ia terus meluncur di permukaan, pelan dan tenang.
Wong Nam yang berjalan di sampingnya ikut berhenti. Ia membetulkan kerah jaket Iota yang terlipat.
“Kapal itu dari besi?” tanya Iota.
“Badannya dari baja. Baja itu logam yang dibuat dari besi.”
Iota memperhatikan kapal itu. Ada jendela-jendela bundar dan sebuah pintu. Di atasnya bertumpuk peti-peti besar. Kapal itu membawa semuanya sambil terus berlayar.
“Berat sekali,” kata Iota. “Kenapa tidak tenggelam?”
“Menurutmu kenapa?”
Iota berpikir. “Mungkin baja kapal itu lebih ringan daripada besi biasa. Lebih ringan daripada paku.”
Wong Nam tidak bilang benar, tidak bilang salah. “Di rumah ada paku. Kita lihat dulu apa yang terjadi pada paku.”
Sepulangnya, Wong Nam mengeluarkan satu paku baja dari kotak perkakas. Panjangnya kira-kira sepanjang jari Iota. Ujungnya tajam, jadi Wong Nam yang memegangnya.
Iota mengambil baskom bening yang kecil, kira-kira sebesar mangkuk sup, mengisinya dengan air sampai setengah, lalu menaruhnya di atas meja. Wong Nam memegang paku di atas air, lalu melepaskannya.
Plung. Paku itu langsung turun. Tik. Ia menyentuh dasar baskom.
Iota menunduk supaya matanya sejajar dengan baskom. Paku itu berbaring di dasar, diam, seluruhnya di bawah air.
“Paku tenggelam,” kata Iota. “Kapal tidak. Padahal kapalnya jauh lebih berat daripada paku. Berat sekali.”
“Jadi bukan soal berat ringan saja,” kata Wong Nam.
Iota mengingat kapal di sungai. Badannya lebar, dan di dalamnya ada ruang-ruang kosong. Sedangkan paku itu kecil, kurus, dan padat.
“Mungkin karena bentuknya,” kata Iota. “Kapal lebar. Paku kecil.”
“Kita bisa mengujinya.”
Wong Nam mengambil paku dari dasar baskom dan mengeringkannya dengan kain. Lalu ia membuka sebuah kotak kecil berisi plastisin. Ia memberi Iota segumpal plastisin, kira-kira sebesar bola pingpong.
“Kita pakai gumpal ini dua kali,” katanya. “Tidak ditambah, tidak dikurangi. Jumlahnya tetap sama.”
Iota menggulung plastisin itu di antara telapak tangannya sampai bundar.
Bola kecil itu kira-kira akan tenggelam atau terapung, ya?