Mission Impayable — Situasi Tak Terduga
Bab 1: Situasi Tak Terduga
Di bagian paling bawah formulir, sesudah riwayat kesehatan, ukuran sepatu, dan janji tidak menyalahgunakan stapler milik klien, ada satu pertanyaan yang membuat Dan Carter berhenti menulis.
Bersedia menghadapi situasi tak terduga?
Di bawahnya ada dua kotak, ya dan tidak.
Dan mengangkat kepala. “Kalau saya centang tidak, tarifnya turun?”
Perempuan di balik meja agensi tidak menoleh dari layar. Kartu plastik di lehernya bertuliskan TASHA.
“Tarifnya tetap.”
“Kalau ya?”
“Tetap.”
“Lalu kotak tidak itu untuk siapa?”
Tasha akhirnya memandangnya. Di belakang Dan, lima orang mengantre dengan map di pangkuan. Jam dinding di atas kepala Tasha menunjukkan pukul 16.29. Dan tahu sekarang pukul 16.40. Jam itu tertinggal sebelas menit, dan sepertinya tidak ada yang keberatan.
“Untuk orang yang tidak butuh kerja,” kata Tasha.
Dan mencentang ya.
Tasha menarik formulir itu dan membaliknya. “Kontak darurat kosong.”
“Saya sendiri.”
“Harus ada nama.”
“Tulis nama saya.”
Tasha memandangnya sebentar, lalu menulis Dan Carter di kolom itu, dengan nomor telepon yang sama dengan nomor di atasnya. Sistem menerimanya.
Dan butuh empat ratus delapan puluh dolar sebelum Senin. Pemilik kamar sudah menempelkan tiga kertas di pintunya. Kertas ketiga ditulis paling sopan, dan justru yang itu membuatnya tidak bisa tidur. Pekerjaan yang seharusnya ia ambil hari ini dibatalkan lewat pesan dua jam sebelum mulai, tanpa alasan dan tanpa ganti ongkos.
Tasha memutar tablet ke arahnya. “Dockline Records. Gudang arsip di lantai empat belas, Gedung Halvorsen. Inventaris malam, delapan sampai enam. Seratus delapan puluh dolar setelah supervisor memverifikasi jam.”
“Kalau tidak diverifikasi?”
“Kami periksa.”
“Berapa lama?”
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
Tasha menimbang pertanyaan itu, seolah belum pernah ada yang menanyakannya. “Tergantung pemeriksaannya.”
Dan menunjuk satu baris kecil di bawah tabel tarif. “Di sini ada tunjangan perjalanan.”
“Untuk penugasan khusus.”
“Menghitung kotak sampai jam enam pagi di lantai empat belas tidak khusus?”
Tasha memperbesar teks, membacanya, lalu mengembalikan tablet. “Tujuh dolar. Kalau shift selesai.”
“Tolong kirim semuanya ke ponsel saya. Alamat, jam, tarif, dan tujuh dolar itu.”
Tasha mengetik. Ponsel Dan bergetar. Ia membaca pesan itu sampai akhir, lalu memotret layarnya sebelum menandatangani. Tasha melihatnya melakukan itu.
“Pesannya tidak akan hilang,” katanya.
“Yang terakhir hilang,” kata Dan.
Lelaki berjaket hijau di kursi belakang memperhatikan tablet sejak tadi. Ketika Dan berdiri, ia menoleh ke lelaki itu. “Tunjangan perjalanan di halaman dua. Minta dicantumkan.”
Lelaki itu mengangguk pelan dan membuka halaman dua.
Tasha menggulir layar sekali lagi lalu berhenti. “Satu hal. Dockline punya pekerja hitung tetap untuk malam ini. Siang tadi ia menelepon kami. Katanya ia dibayar penuh untuk tidak datang. Ia kira itu bonus. Sistem kami membaca slotnya kosong dan mengisinya ulang.”
“Siapa yang membayar orang supaya tidak bekerja?”
“Sistem kami tidak mencatat itu.”
Di kereta, Dan mengeluarkan buku saku bersampul plastik dari saku jaket. Sampulnya retak di pinggir. Halamannya penuh tulisan tangannya sendiri, kecil dan tegak. Nama tempat kerja, jam masuk, jam keluar, dan berulang-ulang tidak dicatat kantor. Gudang, hotel, toko sepatu, pabrik roti. Tinta di halaman-halaman paling awal sudah pudar menjadi cokelat, lebih tua daripada yang bisa ia jelaskan kepada siapa pun yang bertanya. Belum pernah ada yang bertanya.
Di halaman kosong berikutnya ia menulis Dockline, Halvorsen 14, mulai 20.00.
Gedung Halvorsen berdiri di ujung jalan yang lebih banyak dilewati truk daripada orang. Pukul 19.43, Dan masuk ke lobi yang dingin dan terlalu terang. Satpam di balik meja memakai seragam yang kebesaran di bahu. Papan namanya bertuliskan RAY.
Ray meminta kartu identitas Dan dan memasukkannya ke mesin fotokopi tua di belakang meja sebelum mengembalikannya. “Saya fotokopi semua yang lewat meja ini,” katanya. “Kebiasaan dari pekerjaan lama.” Lalu ia menyerahkan kartu plastik kuning bertali, kiriman Dockline sore tadi, dengan nama Dan sudah tercetak di sana. “Sementara. Dua puluh dolar kalau hilang.”
Dan menempelkan kartu itu ke pembaca di samping lift. Lampunya tetap merah. Ia mencoba lagi. Merah.
Ray tidak tampak heran. Ia keluar dari balik meja, menempelkan kartunya sendiri, dan lampu berubah hijau. “Kartu kuning memang sering tidak dikenali,” katanya. “Kau bukan orang pertama.”
Dan masuk ke lift. Ray menekan tombol empat belas untuknya dan menahan pintu dengan tangan.
“Dockline lapor ke lobi tiap siang, siapa saja yang kerja malam,” kata Ray. “Malam ini dua nama. Kau yang ketiga.” Ia ragu, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, “Seharusnya cuma dua.”
Pintu lift menutup sebelum Dan sempat bertanya.