No Respawn — Hadiah yang Belum Dibayar
Bab 1: Hadiah yang Belum Dibayar
Game itu mengirim foto perahu penyelamat yang hilang, padahal di Meridiaankade belum ada seorang pun yang menyebutnya pencurian.
Nadine menerimanya Kamis pukul enam lewat sepuluh sore, di tengah turnamen kecil di arenanya sendiri. Hadiah turnamen itu lima ratus euro, dan sponsornya, sebuah merek minuman energi, belum mentransfer satu sen pun.
MISI LAPANGAN. 4 UNIT DIKIRIM. 0 TIBA. TEMUKAN YANG HILANG. PEMAIN 1/3 · SISA WAKTU (PERKIRAAN) 27:18:40
Di bawah tulisan itu ada foto kecil. Perahu karet oranye di atas troli, dengan nomor putih di lambung. B-04. Di sisi perahu, setengah tertutup bingkai, ada stiker yang Nadine kenal dari brosur di meja dapur ibunya. Pos Bantuan Meridiaankade. Pos tempat ibunya mencatat nama-nama tetangga yang akan dijemput perahu kalau air masuk.
Nadine sudah tiga tahun bermain LAST MILE. Game rute itu sederhana dan kejam. Paket harus tiba sebelum waktu habis, sementara jalan ditutup, prioritas berubah, dan persediaan hilang tanpa pemberitahuan. Ia berada di peringkat dua belas untuk Rotterdam. Sepuluh besar setiap bulan mendapat hadiah dari pengelola game, dan papan bulan ini ditutup Jumat tengah malam. Besar hadiahnya sama persis dengan hadiah sponsor yang tidak kunjung datang. Nadine sudah terlalu sering menghitung kebetulan itu.
Game itu belum pernah mengirim misi dengan foto sungguhan.
“Dia mogok?” tanya Finn dari mesin kedelapan.
Finn berumur sebelas tahun dan tinggal bersama neneknya tiga pintu dari arena. Ia menunjuk mesin kesembilan, yang layarnya tetap gelap walaupun Nadine sudah menyalakannya dua kali.
“Dia sedang menimbang masa depannya,” kata Nadine.
Finn mengetuk layar mesin itu, pelan, untuk membantu keputusannya.
Mesin kesembilan adalah mesin paling tua di arena, mesin balap rute dari tahun sembilan puluhan. Paman Nadine membelinya rusak dari pasar loak dan memperbaikinya sendiri di meja dapur. Waktu Nadine berumur sepuluh tahun, pamannya mengajarinya membaca peta di layar itu. Jangan pilih jalan terpendek, katanya. Pilih jalan yang tidak tergenang. Air selalu tahu jalan paling rendah, dan jalan paling rendah selalu kalah.
Pamannya meninggal dua tahun lalu. Arena itu sekarang milik Nadine, termasuk sewanya, yang jatuh tempo hari Senin.
Poster turnamen menjanjikan delapan peserta. Yang datang tiga, termasuk Finn, yang sebenarnya belum cukup umur untuk mendaftar.
“Hadiah pertamanya apa, Nad?”
“Masih kejutan.”
“Karena belum dibeli?”
Nadine memasukkan ponsel ke laci. “Karena kalau kuberitahu sekarang, juara dua pulang.”
Musik turnamen diputar dari ponsel lama Nadine, yang layarnya retak dan tidak bisa menelepon lagi, tetapi masih menyimpan semua lagu pamannya. Finn kalah dua kali, menang sekali, lalu memprotes aturan peta yang ia pilih sendiri. Nadine memberinya satu kesempatan lagi tanpa koin.
Ollie dari toko perbaikan ponsel sebelah masuk mengembalikan obeng kecil berpita hitam milik paman. Ia memegang kunci cadangan arena sejak pemakaman dan tidak pernah memakainya kecuali diminta. Ia menunjuk garis gelap di kaki tiang lampu di luar pintu kaca.
“Waktu badai Pia, air sampai ke situ. Besok malam katanya lebih tinggi.”
Meridiaankade berada di luar tanggul, di tanah yang menjorok ke Sungai Maas. Kalau air sungai naik, tanggul melindungi kota di belakangnya. Kawasan di luar tanggul hanya bisa mengganjal pintunya dan menunggu.
“Mesinmu perlu diganjal,” kata Ollie.
“Mesinku perlu dibayar dulu.”
Pukul delapan, Oma Ria mengetuk kaca dari luar. Ia duduk di kursi roda dengan payung terlipat di pangkuan. Finn mengambil tasnya dan berlari keluar. Nadine mengantar mereka sampai ujung trotoar, ke rumah lantai dasar dengan dua anak tangga di depan pintu yang selalu diakali dengan papan kayu.
“Besok malam Oma di rumah?” tanya Nadine.
“Kata pemerintah kota, kalau air masuk, orang yang tidak bisa naik tangga dijemput perahu.” Oma Ria menepuk roda kursinya. “Aku tidak bisa naik tangga sejak 2019.”
“Perahunya dari mana?”
“Dari pos bantuan di sekolah. Empat perahu baru, kata ibumu. Ia yang mencatat namaku.”
Nadine kembali ke arena dan mematikan mesin satu per satu. Lalu ia membuka misi itu lagi dan memperbesar foto B-04 sampai gambarnya pecah.
Stiker itu masih di sana, setengah tertutup bingkai. Empat perahu baru, kata Oma Ria. Empat unit dikirim, kata game itu. Nol tiba.
Di bawah tombol terima ada tombol lain, lebih kecil dan abu-abu. KELUAR DARI MISI. TANPA PENALTI. Game rute yang biasa ia mainkan tidak pernah repot menawarkan jalan keluar. Ia menekan tombol terima. Game meminta izin memakai lokasi dan foto yang ia pilih untuk diunggah. Titik pertama muncul di peta, di halte trem depan sekolah tempat ibunya bekerja sebagai relawan.
Mesin kesembilan menyala sendiri ketika ia mematikan sakelar utama.
“Terlambat,” katanya pada mesin itu.
Ponsel di meja kasir bergetar sekali.
PEMAIN 1 TERDAFTAR. BESOK PUKUL 08.10, HALTE TREM SEKOLAH. JANGAN TIDUR TERLALU LARUT.
Nadine memandangi baris terakhir itu lama. Belum pernah ada game yang menyuruhnya tidur.
Catatan desain
Empat perahu penyelamat tercatat diterima pos bantuan Meridiaankade hari Minggu. Satu muncul lagi hari Rabu, di iklan situs jual beli, di depan dinding seng biru yang bukan dinding pos.
Laporan tanpa nama ke alamat pos bantuan dikirim Rabu malam. Laporan itu masuk folder spam, di antara tawaran pinjaman dan undian berhadiah.
Suara tanpa wajah tidak dipercaya. Tiga tetangga basah kuyup yang membawa foto, mungkin dipercaya.
Tiga pemain dipilih karena tinggal dekat, bermain teliti, dan biasa memperhatikan hal yang dilewati orang lain. Misi dibuka dengan foto dan tautan ke sumbernya. Verifikasi nomor unit diberi poin besar supaya mereka mau mencocokkan.
Tidak ada penjelasan cara memverifikasi. Belum terlihat perlunya.
Dari tiga pemain itu, satu dipilih karena alasan yang tidak dicatat di sini.