Syntories

Powerful Woman — Bab 1

Bab 1

Ruang teh Ibu Negara ada di sayap barat Arcadia Palace. Lantai dua. Di ujung koridor yang karpetnya terlalu tebal untuk mendengar langkah sendiri.

Seorang ajudan menjemputku di gerbang belakang pukul sembilan pagi. Tidak ada wartawan. Tidak ada tangga depan. Tidak ada kamera.

Perutku mengeras.

Ibu dan Ayah sudah naik kapal pagi ke Verida. Ibu memelukku lama di pelabuhan. Dia tidak bertanya siapa Bu Clara. Dia hanya bilang hati-hati, Nak tiga kali. Ayah menepuk pundakku dua kali.

Mereka tidak tahu aku akan ke sini.

Ajudan membuka pintu. Wangi lili menyerbu keluar. Berat. Manis. Memualkan.

Ruangan putih. Bunga lili di vas-vas kristal.

Imelda duduk di sofa. Gaun krem. Mutiara. Rambut disanggul rendah. Di meja kecil di depannya, poci teh porselen dan dua cangkir.

Dia tersenyum saat aku masuk. Keibuan. Hangat.

“Anya, Sayang. Duduklah.”

Duduk. Di ujung sofa. Tas di pangkuan. Tanganku di atas tas.

Dia menuang teh. Untukku dulu. Lalu untuknya. Tangannya tidak gemetar sedikit pun.

“Selamat atas mahkotanya,” katanya. “Ibu menonton dari barisan kedua. Kau berteriak tanpa mikrofon. Indah sekali. Benito menangis di sampingku. Dia pikir Ibu tidak melihat.”

Tehku tidak kusentuh.

Dia mengambil map tipis dari meja samping. Membukanya. Mengeluarkan selembar kertas. Meletakkannya di depanku. Di samping cangkir teh.

Pernyataan.

Saya, Hanya, menyatakan bahwa cerita yang beredar mengenai hubungan tidak pantas antara Saudara Benito dan dosen Clara adalah tidak benar dan merupakan fitnah. Saya tidak pernah melihat kejadian tersebut.

Di bawahnya, garis kosong. Untuk tanda tanganku.

“Ibu tidak meminta banyak,” kata Imelda. Suaranya lembut. Sabar. “Satu tanda tangan. Itu saja.”

Kertas itu kutatap. Kata-katanya rapi. Seperti diketik oleh orang yang sangat teliti.

“Dan sebagai gantinya…” Imelda mengangkat satu jari. “Beasiswamu, Ibu jamin. Dari negara. Tanpa yayasan Ravan yang sedang kacau itu. Sampai kau lulus. Sampai gelar doktor kalau kau mau.”

Jari kedua.

“Pekerjaan. Kau tidak perlu lagi menjadi asisten Eris. Ibu punya tempat untukmu di istana. Staf khusus. Gaji tiga kali lipat.”

Jari ketiga.

“Dan keluargamu. Ayahmu. Ibumu yang sambal terasinya enak.” Senyumnya tidak berubah. “Aman.”

Aman.

Kata itu jatuh di karpet tebal. Tidak berbunyi.

Aku mengangkat kepala. Menatapnya. Bola mataku berontak. Seperti di Gold Mansion. Seperti di ruang periksa jaksa.

“Keluarga saya memang aman, Bu.”

Imelda tersenyum lebih lebar. Dia meraih map tipis itu lagi. Mengeluarkan satu benda lagi. Kertas mengilap. Ukuran kartu pos.

Foto.

Dia meletakkannya di atas pernyataan itu. Menggesernya ke arahku. Satu jari.

Rumah kami. Pagar bambu. Bunga kertas yang Ibu tanam. Teras kayu. Kursi bambu tempat Ayah duduk menatap sawah.

Di sudut foto, tanggal kecil berwarna oranye.

Kemarin.