Rich Woman — Bab 1
Bab 1
Pukul enam tepat, mobil hitam berhenti di ujung gang Wisma Derrida.
Tangga kayu kuturuni. Pelan-pelan. Gaun Ibu di tubuhku. Sandal berhak rendah yang kubeli tadi siang di pasar. Tiga puluh lima ribu.
Vera berdiri di depan warungnya. Celemek. Lap di bahu. Penghuni wisma berdiri di jendela-jendela. Mahasiswi kamar sebelah. Dua mahasiswa teknik. Ibu kos yang biasanya tidur pukul delapan.
Tidak ada yang tertawa.
Vera mendekat. Dia merapikan kerah gaunku. Menarik ujung lengannya supaya lurus. Lalu mundur. Menatapku dari atas sampai bawah.
“Kancingmu beda satu,” katanya.
“Iya.”
“Bagus.” Dia mengangguk sekali. “Biar mereka lihat.”
Paris turun dari mobil. Jas hitam. Rambut cokelat terang disisir ke belakang.
Dia berhenti dua langkah dariku. Matanya turun ke gaun. Ke kancing yang berbeda. Lalu naik ke wajahku.
Dia tidak berkomentar. Dia tersenyum. Lebar. Matanya ikut tersenyum.
“Kau cantik,” katanya pelan. “Dan kau berani.”
Kepalaku menunduk.
“Apa pun yang terjadi malam ini, ingat aku yang mengundangmu.”
Gold Mansion menyala seperti istana di film. Lampu di setiap jendela. Obor di sepanjang jalan masuk. Patung-patung marmer dihias untaian lampu kecil.
Paris membukakan pintu untukku. Lengan diulurkan. Kugandeng.
Ruang makan utama lebih besar dari ruang arisan. Langit-langit setinggi tiga lantai. Lampu kristal sebesar mobil. Meja panjang berlapis taplak emas. Seratus kursi.
Keluarga-keluarga elite Arcadia berdiri berkelompok. Gaun sutra. Jas beludru. Berlian di leher. Di telinga. Di pergelangan tangan.
Kepala-kepala menoleh saat kami masuk. Satu kelompok. Lalu kelompok lain. Lalu seluruh ruangan.
Mata mereka turun ke gaunku. Ke brokat yang menguning di lipatan. Ke sandal tiga puluh lima ribu.
Bisik-bisik merayap seperti air.
Di sudut, Imelda. Gaun putih. Mutiara. Gelas sampanye di tangan. Dia mengangkat gelasnya sedikit ke arahku. Tersenyum.
Di sampingnya, Benito. Jas biru. Tanpa ponsel di tangan. Tangannya bingung. Dia memasukkannya ke saku. Mengeluarkannya. Dia melihatku. Matanya membesar. Dia menggeleng sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
Jangan.
Mataku mencari Cleo. Tidak ada. Gaun hitam itu tidak ada di ruangan ini. Cleo tidak diundang lagi ke tempat seperti ini.
Paris berbisik di telingaku. “Ibuku di sana.”
Di ujung meja panjang. Di depan panggung kecil dengan mikrofon perak.
Avaria.
Gaun emas. Seolah dia dicelup di bulatan dua puluh empat kilo. Rambutnya disanggul tinggi. Kalung berlian bertingkat tiga.
Dia melihatku. Dari ujung ruangan. Matanya turun. Naik. Dia tersenyum. Lebar. Puas.
Seperti kucing yang melihat tikus masuk ke dapurnya sendiri.
Dia berjalan ke panggung kecil. Pelayan menyalakan lampu sorot. Musik berhenti.
Avaria mengetuk mikrofon dengan kukunya. Tuk. Tuk.
Seratus kepala menoleh ke arahnya.
“Selamat malam, keluargaku tersayang.” Suaranya nyaring. Memantul di langit-langit tinggi.
“Malam ini kita punya tamu istimewa.”