Satu Hari Tanpa Makeup — Dua Belas Langkah
Bab 1: Dua Belas Langkah
Komentar tentang wajah Ines hari ini: 3. “Segar.” “Capek ya?” “Cantik, deh.”
Dua belas langkah, empat puluh satu menit.
Ines tidak pernah berniat menghitungnya. Suatu pagi ia melirik jam sebelum mulai dan sesudah selesai, dan sejak itu angka itu menempel. Empat puluh satu. Empat puluh dua kalau alis sedang rewel. Empat puluh kalau kereta berangkat lebih awal dan ia mengorbankan maskara bawah.
Langkah satu sampai lima untuk kulit. Pembersih, toner, serum, pelembap, pelindung matahari. Langkah enam sampai dua belas untuk wajah. Alas. Penutup bawah mata. Bedak. Alis. Pemerah pipi. Maskara. Bibir.
Langkah ketiga belas tidak ada di daftar mana pun. Sebelum meraih tas, ia berdiri di depan cermin dan memasang senyum. Bibir tertutup, sudut naik tepat sampai garis yang tidak membuat pipinya bergeser, mata ikut sedikit. Orang bilang senyumnya menenangkan. Ines tidak pernah menanyakan menenangkan siapa.
Pukul 06.40 ia keluar dari apartemen.
Di kereta kota pagi itu ia berdiri berdempetan di lorong. Di kaca jendela ia bisa melihat enam perempuan menyelesaikan langkah terakhir mereka dengan kaca kecil di telapak tangan. Satu menyapukan pemerah. Satu memutar maskara dengan mulut membentuk huruf O. Satu menekan bibir pada tisu. Tidak ada yang saling memandang.
Ines memeriksa dirinya di kaca itu. Alis kiri sedikit lebih tinggi. Ia memperbaikinya dengan ujung jari, tanpa melihat.
Di seberangnya duduk seorang gadis berseragam sekolah, mungkin enam belas, berjerawat di dagu, rambut belum disisir. Ia sedang tertawa pada sesuatu di ponselnya. Mulutnya terbuka, kepalanya sedikit mundur. Ines menatapnya terlalu lama. Gadis itu menyadarinya, berhenti tertawa, dan menutup mulut dengan punggung tangan.
Ines memalingkan wajah ke jendela.
“Segar,” kata resepsionis di lantai dua belas ketika Ines lewat.
“Terima kasih.”
“Kamu selalu segar. Aku tidak mengerti caranya.”
“Tidur cukup,” kata Ines. Ia tidur lima jam.
Rapat divisi dimulai pukul sembilan. Helen duduk di ujung meja dengan blus abu-abu pucat dan bibir yang sudah selesai, selalu selesai, sejak Ines mengenalnya tiga tahun lalu. Helen empat puluh sembilan, pemimpin divisi, dan bisa membuat selembar kertas terasa seperti keputusan. Di sebelahnya duduk Dara, tiga puluh lima, dengan rambut diikat ke belakang dan wajah polos.
Dua bulan terakhir Dara datang ke kantor tanpa apa-apa di wajahnya. Tidak ada pengumuman. Satu Senin ia datang, dan wajahnya adalah wajahnya. Orang-orang bersikap seolah tidak melihat, dan itu cara paling sopan untuk terus melihat.
“Dua hal,” kata Helen. “Pertama, kepala tim klien. Posisi itu akan diisi dari dalam. Ada dua kandidat.” Ia memandang Ines, lalu Dara. “Kalian berdua. Direktur akan mewawancarai kalian Jumat, tiga minggu lagi. Pukul dua.”
Tidak ada yang bersuara. Kepala tim klien berarti gaji yang berbeda, ruangan dengan jendela, dan duduk di depan klien terbesar perusahaan setiap hari.
“Kedua, presentasi untuk Anders. Kamis, dua minggu lagi.” Helen mengetuk kertasnya. “Klien itu akan duduk berhadapan dengan wajah kita selama dua jam. Aku mau wajah yang membuat dia merasa aman. Itu belum kuputuskan.”
Dara menatap lembarannya. Ines merasakan telapak tangannya basah dan menaruhnya di pangkuan.
Sesudah rapat, di lorong, Dara berjalan di sebelahnya sampai ke mesin kopi.
“Aku mau jabatan itu,” kata Dara. Ia menekan tombol cappuccino. “Aku cuma mau kamu dengar langsung dariku. Supaya nanti tidak ada yang pura-pura kaget.”
“Aku tidak akan pura-pura.”
“Bagus.” Dara mengambil gelasnya. “Kamu juga mau?”
Ines membuka mulut. Langkah ketiga belas sudah terpasang sebelum ia sempat memutuskan.
“Aku belum tahu,” katanya.
Dara memandang senyum itu sebentar, lalu pergi dengan kopinya.
Pukul 19.20 Ines pulang. Apartemen kecilnya berbau pelembap dan kopi dari pagi. Ia melepas sepatu, duduk di tepi tempat tidur, dan membiarkan bahunya turun.
Ponselnya bergetar. Sebuah grup baru.
Kelas XII-3, Reuni 10 Tahun.
Undangan bergambar. Balon, kembang api, huruf besar berwarna emas. Sabtu, tiga minggu lagi. Aula sekolah. Semua wajib datang! Di bawahnya tiga puluh dua nama yang belum ia lihat dalam waktu lama, dan sebelas pesan. Astaga! Sepuluh tahun! Aku datang! Ya ampun kita sudah tua.
Sabtu, tiga minggu lagi. Ia membuka kalender di ponselnya. Jumat pukul dua, wawancara. Sabtu pukul tujuh, aula sekolah. Dua kotak kecil yang bersebelahan.
Jarinya bergerak sendiri. Aku datang.
Ia menatap tulisan itu. Orang-orang di grup ini pernah melihatnya pada usia delapan belas, sebelum dua belas langkah. Ia menghapusnya dan mengetik lagi.
Mungkin.
Ia mengirimnya sebelum bisa berubah pikiran.
Pukul 23.05 ia berdiri di depan cermin kamar mandi dan melakukan semuanya dengan urutan terbalik. Bibir. Maskara. Pemerah. Alis. Bedak. Penutup. Alas. Tiga menit. Empat puluh satu menit untuk membangun, tiga untuk meruntuhkan.
Ia mematikan lampu kamar mandi, berbaring, dan meraih ponsel untuk memasang alarm.
Pukul 23.10 layar menyala.
Marco menandai kamu dalam sebuah foto.
Seorang anak perempuan delapan belas tahun berdiri di tangga sekolah dengan seragam kusut dan pipi bulat. Ia sedang tertawa dengan seluruh kepalanya, mulut terbuka lebar, mata hampir tertutup. Di antara gigi depannya ada celah yang bisa dilalui sehelai kertas.
Di bawahnya Marco menulis, Ines yang dulu! Siapa yang masih ingat ketawanya? Kayak pintu rusak HAHAHA
Dalam gelap, tangan Ines naik ke mulutnya sendiri, dan menutupnya.