Syntories

Tidak Apa-Apa — Tidak Apa-Apa

Bab 1: Tidak Apa-Apa

Sebelum pukul tujuh pagi, kalimat tidak apa-apa sudah keluar dari mulutku sembilan kali.

Kuhitung dengan ibu jari, satu ruas jari demi satu ruas. Kebiasaan lama dari zaman kantor. Kalau terlalu banyak yang harus diurus, hitung sesuatu yang kecil supaya kepala punya pegangan.

Satu. Pukul 05.20, kasur Leo basah dan ia berdiri di sampingnya dengan wajah orang yang menunggu vonis. “Tidak apa-apa, Sayang. Namanya juga anak kecil.”

Dua. Nina kehilangan kaus kaki kiri. Ia mencarinya di bawah sofa, di dalam sepatu, di tempat yang tidak mungkin ada kaus kaki, lalu menatapku seolah akulah yang menyembunyikannya. “Pakai yang putih saja. Tidak apa-apa.”

Tiga. Ibu sudah duduk di meja makan sebelum seprai selesai kucuci. Ibu adalah ibu Adam, enam puluh enam tahun, tinggal di kamar belakang sejak Bapak meninggal lima tahun lalu. Sendok di tangannya dipegang dengan cara penyidik memegang barang bukti. “Saus semalam kurang asam, Sel.”

“Tidak apa-apa, Bu. Nanti saya tambah jeruk.”

Empat. Adam mencari kunci mobil sambil menelan roti. Ia lelaki yang baik. Itu perlu kutulis lebih dulu, sebelum ada yang salah paham. Adam baik. “Semalam aku ketiduran, nggak bantu beres-beres. Maaf ya.”

“Tidak apa-apa.”

Lima, enam. Leo menumpahkan susu ke buku komunikasi Nina, dan Nina menjerit seolah rumah kebakaran. Halaman buku itu kulap dengan tisu dapur dan kutiup, lalu kubilang kepada keduanya bahwa tidak apa-apa. Nina tidak mau ke sekolah dengan buku basah. Ibu gurunya pasti mengerti, kataku. Apakah ibu gurunya mengerti, tidak ada yang tahu. Yang kutahu hanya bahwa satu kalimat itu bisa menenangkan dua anak sekaligus.

Tujuh. Pukul 06.15 Adam mencium keningku dari samping, tas kerja sudah di bahu. “Kamu istirahat ya kalau sempat.”

Kalau sempat. Seolah istirahat barang yang kadang lewat di depan rumah, dan tugasku hanya berdiri di pagar pada saat yang tepat.

“Iya. Tidak apa-apa.”

Delapan, sembilan. Pak Omar, pedagang sayur keliling yang berhenti di depan pagar pukul 06.40, mengumumkan harga cabai naik lagi. Kepalaku mengangguk. Ia bertanya apakah aku tetap mau beli satu ons. Tidak apa-apa, satu ons saja.

Dengan sekantong cabai di tangan, aku berdiri di pagar dan baru sadar bahwa tidak satu pun dari sembilan kalimat itu kuucapkan karena memang tidak apa-apa.

Tetapi kalimat lain juga tidak kupunya.

Pukul 07.20 kuantar Nina dan Leo dengan mobil kecil kami yang pintu kirinya hanya mau terbuka kalau ditendang dengan lutut. Leo turun di taman kanak-kanak pukul 07.30, Nina di sekolah dasar pukul 07.40. Di depan gerbang para ibu berdiri berkelompok. Masing-masing bisa kukenali dari cara mereka memegang tas anak. Erat, longgar, setengah acuh, atau tidak sadar sama sekali.

Namaku Mamanya Nina. Di grup wali murid kelas 3B pun namaku tertulis begitu. Anggotanya empat puluh tujuh, dan akulah yang paling sering menjawab pertanyaan, dari halaman berapa PR Matematika hari ini sampai berapa iuran buku. Itu tidak membuatku keberatan. Dalam hal itu aku memang bagus. Dulu aku bekerja di bagian keuangan sebuah distributor, dan sebelas tahun lalu seseorang pernah menyebutku orang yang paling bisa diandalkan di lantai ini. Kalimat itu masih kusimpan, seperti kuitansi.

Pukul 08.10 aku pulang. Cuci piring. Jemur. Setrika empat kemeja Adam. Ibu menonton televisi dengan volume yang membuat serialnya bisa kuikuti tanpa menonton. Pukul sebelas masak. Pukul satu mengepel. Pukul tiga jemput Leo dan menjawab dua puluh tujuh pertanyaannya di jalan. Pukul empat jemput Nina dan mendengar cerita tentang temannya yang punya hamster. Pukul lima memandikan mereka. Pukul enam menghangatkan lauk. Pukul tujuh Leo menangis karena tidak mau makan wortel, dan kubilang ya sudah, tidak apa-apa, wortelnya ditinggal.

Adam pulang pukul 19.40. Wajahnya abu-abu, sewarna dinding gudang tempat ia bekerja mengawasi dua puluh dua orang yang memindahkan kardus dari satu rak ke rak lain. Ia membuka sepatu di depan pintu, menyapa Ibu, mengusap kepala Leo, lalu duduk di meja makan dengan ponsel di tangan.

“Capek banget hari ini,” katanya.

“Makan dulu.”

“Kamu udah makan?”

“Nanti.”

Ia mengangguk dan makan. Ceritanya tentang forklift yang mogok dan atasan yang mengubah jadwal pengiriman tanpa memberi tahu. Kudengarkan, seperti biasa. Kadang kutanya siapa atasannya itu, apakah ia sudah makan siang, apakah punggungnya masih sakit. Pertanyaan-pertanyaan itu keluar sendiri tanpa perlu diminta.

Kapan terakhir kali ia bertanya balik, sesuatu yang jawabannya bukan iya atau tidak, aku tidak ingat.

Itu bukan tuduhan. Hanya kusebutkan.

Pukul 21.40 dapur akhirnya sepi.

Anak-anak sudah tidur. Ibu sudah masuk kamar dan menutup pintu dengan bunyi klik pelan, tanda ia selesai dengan hari ini. Adam di sofa menonton pertandingan bola dengan mata setengah terbuka. Kompor sudah kulap, piring sudah kering di rak. Tinggal satu pekerjaan lagi, menyabuni bagian dalam penanak nasi.

Panci dalamnya kuangkat. Penanak nasi itu masih menyala, dengan lampu kecil berwarna oranye di bagian depan. Di bawah lampunya ada tulisan berhuruf pudar. Warm.

Aku berdiri di situ.

Entah berapa lama. Mungkin semenit, mungkin lebih. Lampu oranye itu menyala tenang tanpa meminta apa-apa. Tidak lelah. Tidak perlu dipuji. Ia hanya menjaga nasi tetap hangat untuk orang-orang yang mungkin akan lapar lagi.

Lalu aku menangis.

Tangisnya pelan. Tidak ada alasannya. Tidak ada surat buruk, tidak ada yang membentakku, tidak ada kabar dari rumah sakit. Air mata jatuh begitu saja ke lap dapur di tanganku, satu, dua, lalu terlalu banyak untuk dihitung. Kupejamkan mata dan kucari sebabnya, persis mencari kaus kaki Nina. Di bawah sofa, di dalam sepatu, di tempat sebab-sebab biasanya berada.

Tidak ada.

Adam baik. Ibu, kadang-kadang, juga baik. Anak-anak sehat. Rumah ini punya atap, listrik, dan cicilan yang masih terbayar. Tidak ada yang salah. Justru karena tidak ada yang salah, kalimat pembukanya tidak ada. Kalau ada yang salah, aku bisa bilang. Dia melakukan ini. Mereka melakukan itu. Bagaimana menjelaskan kepada seseorang bahwa aku menangis di depan penanak nasi karena lampunya mirip diriku sendiri? Hangat, menyala, dan selalu siap.

Panci dalamnya kucuci dengan mata basah, kukeringkan, kupasang kembali. Lampu oranye itu masih menyala, dan membencinya pun aku tidak bisa.

Kamar mandi satu-satunya ruangan di rumah ini yang bisa dikunci.

Pintunya kututup, kuncinya kuputar, dan kran wastafel kunyalakan sampai airnya berbunyi ramai. Itu cara lama. Kalau Nina ketahuan menangis, ia melakukan hal yang sama, dan aku pura-pura tidak tahu. Di tepi bak mandi aku duduk dengan ponsel di tangan.

WhatsApp punya fitur untuk mengirim pesan kepada diri sendiri. Selama ini kupakai untuk daftar belanja, nomor resi, dan foto catatan dokter anak. Belum pernah untuk suara.

Ikon mikrofon kutahan dan kugeser ke atas supaya terkunci dan tanganku bebas. Lampu merah berkedip. Angka detik mulai berjalan.

“Halo,” kataku. Suaraku terdengar aneh di ruangan berkeramik. “Ini aku.”

Jeda.

“Aku nggak tahu mau ngomong sama siapa, jadi aku ngomong sama ini. Tadi aku nangis di depan penanak nasi. Nggak ada apa-apa. Nasinya matang, lampunya Warm, terus aku nangis. Aneh, ya.”

Air kran mengalir.

“Adam baik. Ibu juga baik, kadang. Anak-anak sehat. Nggak ada yang salah. Justru itu. Kalau ada yang salah, aku bisa bilang. Aku kangen… aku nggak tahu kangen sama siapa. Sama aku, kali. Aduh, kok aneh. Hapus, hapus.”

Tawaku patah di tengah.

“Pokoknya aku nggak apa-apa.”

Rekaman kuhentikan. Gelombang suaranya lima puluh dua detik. Mau kudengar atau kuhapus, belum kuputuskan. Dua-duanya memalukan. Mungkin lebih baik disimpan dan didengar besok pagi, ketika aku sudah bisa menertawakan semua ini.

Saat itu ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk ke salah satu obrolan, dan daftar di layar bergeser turun satu baris.

Ibu jariku mengetuk tombol kirim.

Ibu jari yang sama yang tadi pagi menghitung tidak apa-apa sembilan kali, di obrolan yang kukira obrolan dengan diriku sendiri.

Bunyi kecil itu terdengar. Swoosh, lalu centang.

Ponsel kuturunkan dan nama obrolannya kubaca.

Grup Wali Murid 3B (47).

Di bawahnya ada gelombang suara abu-abu berisi lima puluh dua detik hidupku.

Kran masih mengalir.